Osteoporosis sering kali tidak menimbulkan gejala pada tahap awal. Namun, bila tidak ditangani dengan baik, kondisi ini dapat menyebabkan berbagai komplikasi serius yang berdampak pada kesehatan fisik, kemandirian, hingga kualitas hidup penderitanya.

Penurunan kepadatan tulang membuat tulang menjadi rapuh dan mudah patah, bahkan akibat benturan ringan atau aktivitas sehari-hari. Komplikasi osteoporosis paling sering terjadi pada tulang belakang, pinggul, dan pergelangan tangan.

Berikut ini adalah beberapa komplikasi yang dapat terjadi akibat osteoporosis:

1. Fraktur tulang

Fraktur atau patah tulang merupakan komplikasi paling sering pada penderita osteoporosis. Tulang yang rapuh membuat patah tulang bisa terjadi akibat jatuh ringan atau benturan yang sebenarnya tidak berbahaya pada orang dengan tulang sehat. Bagian tulang yang paling sering mengalami fraktur adalah tulang belakang, pinggul, dan pergelangan tangan.

Patah tulang pinggul, terutama pada lansia, tergolong kondisi berbahaya karena dapat meningkatkan risiko kematian. Hal ini berkaitan dengan komplikasi selama masa pemulihan, seperti infeksi, gangguan jantung, atau penggumpalan darah akibat kurang bergerak.

2. Nyeri kronis

Fraktur, terutama pada tulang belakang, dapat menimbulkan nyeri punggung yang berlangsung lama atau menjadi kronis. Nyeri ini dapat terjadi akibat perubahan struktur tulang atau tekanan pada saraf di sekitar tulang belakang. Kondisi ini sering kali sulit diatasi dan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.

3. Perubahan postur tubuh

Patah tulang belakang akibat osteoporosis dapat menyebabkan tulang menjadi lebih pendek dan memicu postur tubuh membungkuk (kifosis). Selain itu, penderita juga dapat mengalami penurunan tinggi badan secara bertahap. Perubahan postur ini dapat memengaruhi keseimbangan dan meningkatkan risiko jatuh.

4. Penurunan mobilitas

Fraktur pada pinggul atau tulang belakang dapat menyebabkan keterbatasan gerak yang signifikan. Penderita mungkin kesulitan berjalan, berdiri, atau melakukan aktivitas sehari-hari. Pada kondisi tertentu, penderita memerlukan alat bantu jalan atau bantuan orang lain.

5. Risiko komplikasi lanjutan

Kurangnya pergerakan akibat patah tulang, terutama pada lansia, dapat meningkatkan risiko komplikasi lain. Beberapa di antaranya adalah pembekuan darah (trombosis), infeksi saluran kemih, pneumonia, gangguan tidur, serta depresi akibat menurunnya kemandirian.

6. Kecacatan permanen

Fraktur berat atau fraktur berulang yang tidak ditangani dengan optimal dapat menyebabkan kecacatan permanen. Kondisi ini dapat membuat penderita sulit kembali beraktivitas seperti sebelumnya. Dampaknya tidak hanya dirasakan secara fisik, tetapi juga secara sosial dan psikologis.

Komplikasi osteoporosis tidak hanya berdampak pada kondisi fisik, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan mental dan kualitas hidup penderitanya. Deteksi dini dan pengobatan yang tepat berperan penting dalam mencegah komplikasi yang lebih berat.