Maxpro adalah obat antibiotik untuk mengatasi berbagai infeksi bakteri dalam tubuh. Obat dengan kandungan cefixime ini umumnya diresepkan untuk mengobati infeksi bakteri ringan hingga sedang, seperti infeksi saluran kemih, infeksi saluran pernapasan, infeksi telinga tengah, hingga infeksi gonore.
Cefixime pada Maxpro termasuk dalam antibiotik golongan sefalosporin. Bahan aktif ini bekerja dengan cara menghambat pembentukan dinding sel bakteri, sehingga bakteri tidak dapat berkembang atau bertahan hidup. Dengan begitu, infeksi akibat bakteri bisa diatasi dan gejala yang ditimbulkan, seperti demam, nyeri, atau peradangan, berangsur mereda.
Penggunaan Maxpro harus sesuai anjuran dokter, karena penggunaan antibiotik yang tidak tepat bisa memicu resistensi bakteri dan membuat pengobatan kurang efektif saat infeksi kambuh kembali.
Produk Maxpro
Maxpro merupakan obat resep yang dikemas dalam 2 macam sediaan, yaitu:
- Maxpro 100 mg 10 Tablet, dengan kandungan 100 mg cefixime per tabletnya
- Maxpro drops, yang berisi 30 mg cefixime tiap ml
Apa Itu Maxpro
| Bahan aktif | Cefixime trihydrate |
| Golongan | Obat resep |
| Kategori | Antibiotik sefalosporin |
| Manfaat | Mengobati infeksi bakteri |
| Digunakan oleh | Dewasa dan anak-anak |
| Maxpro untuk ibu hamil | Kategori B: Studi pada binatang percobaan menunjukkan adanya efek samping terhadap janin, tetapi hal ini tidak terkonfirmasi dengan data yang didapatkan dari studi terkontrol pada ibu hamil. |
| Jika Anda sedang hamil, sebaiknya tetap konsultasikan dengan dokter terkait penggunaan obat ini. | |
| Maxpro untuk ibu menyusui | Maxpro umumnya aman digunakan oleh ibu menyusui selama digunakan sesuai anjuran dokter |
| Bentuk obat | Tablet dan drops |
Peringatan sebelum Menggunakan Maxpro
Maxpro tidak boleh digunakan sembarangan. Penting bagi Anda memperhatikan hal-hal berikut sebelum menggunakan Maxpro:
- Sampaikan kepada dokter tentang riwayat alergi yang Anda miliki. Maxpro tidak boleh digunakan oleh orang yang alergi terhadap obat ini atau obat antibiotik lain dari golongan sefalosporin, misalnya cefadroxil, penisilin, atau cefaclor.
- Informasikan kepada dokter jika Anda pernah atau sedang menderita diabetes, penyakit liver, penyakit ginjal, kekurangan gizi, atau gangguan pencernaan, seperti kolitis.
- Konsultasikan dengan dokter mengenai penggunaan Maxpro jika Anda baru saja atau berencana menjalani vaksinasi dalam waktu dekat. Kandungan cefixime dalam obat ini bisa menurunkan efektivitas vaksin tertentu.
- Pastikan untuk memberi tahu dokter jika Anda sedang hamil, berencana hamil, atau sedang menyusui sebelum menggunakan Maxpro. Informasikan juga jika sedang menunda kehamilan dengan pil KB. Obat ini dapat menurunkan efektivitas pil KB.
- Hindari konsumsi minuman beralkohol selama menjalani pengobatan dengan Maxpro.
- Jangan langsung mengemudi atau melakukan aktivitas lain yang memerlukan kewaspadaan setelah mengonsumsi Maxpro. Obat ini dapat menyebabkan pusing dan sakit kepala.
- Segera temui dokter jika terjadi reaksi alergi obat atau efek samping serius setelah mengonsumsi Maxpro.
Dosis dan Aturan Pakai Maxpro
Berikut ini adalah dosis umum penggunaan Maxpro berdasarkan usia dan kondisi pasien:
Kondisi: Infeksi saluran kemih, otitis media, faringitis, tonsilitis, dan bronkitis, gonore tanpa komplikasi
- Dewasa dan anak dengan BB≥30 kg : 100–200 mg, 2 kali sehari. Untuk infeksi berat, dosis dapat ditingkatkan sampai 200 mg, 2 kali per hari.
- Anak dengan BB <30kg: 3–6 mg, 2 kali sehari.
Cara Menggunakan Maxpro dengan Benar
Pastikan Anda menggunakan Maxpro sesuai anjuran dokter dan petunjuk pada kemasan. Jangan menambah atau mengurangi dosis tanpa persetujuan dokter.
Agar hasil pengobatan maksimal, ikutilah panduan penggunaan Maxpro berikut ini:
- Konsumsilah Maxpro pada saat makan atau segera sesudahnya agar tidak menimbulkan sakit maag. Telan tablet Maxpro dengan air putih.
- Konsumsilah Maxpro pada waktu yang sama setiap harinya. Jika Anda lupa, segera minum obat ini begitu teringat. Namun, bila waktu minum obat berikutnya sudah dekat, abaikan dosis yang terlewat dan jangan menggandakan dosis selanjutnya.
- Jika mengonsumsi Maxpro dalam bentuk drops, kocoklah botol kemasannya sebelum diminum. Gunakanlah alat takar yang disertakan dalam kemasan supaya dosisnya akurat.
- Jangan menghentikan pengobatan tanpa persetujuan dokter. Penggunaan antibiotik yang tidak sesuai dengan anjuran dokter dapat membuat bakteri penyebab infeksi menjadi kebal terhadap pengobatan (resistensi antibiotik).
- Simpan Maxpro di tempat bersuhu ruangan dan terhindar dari paparan sinar matahari langsung, serta jauh dari jangkauan anak-anak.
- Jangan mengonsumsi Maxpro jika sudah melewati tanggal kedaluwarsa.
Interaksi Maxpro dengan Obat Lain
Interaksi yang dapat terjadi jika Maxpro digunakan bersama obat-obat lain adalah:
- Peningkatan risiko terjadinya efek samping dari carbamazepine
- Peningkatan risiko terjadinya perdarahan jika digunakan dengan antikoagulan, seperti warfarin
- Penurunan efektivitas vaksin yang berasal dari bakteri hidup, seperti vaksin BCG atau vaksin tifoid
- Peningkatan risiko terjadinya efek samping cefixime jika digunakan bersama probenecid
- Penurunan efektivitas obat yang mengandung estradiol, seperti pil KB
Untuk mencegah terjadinya efek interaksi obat, diskusikan dengan dokter jika Anda berencana menggunakan Maxpro bersama obat, suplemen, atau produk herbal apa pun.
Efek Samping dan Bahaya Maxpro
Berdasarkan kandungan cefixime di dalam Maxpro, berikut beberapa efek samping yang mungkin timbul setelah mengonsumsi obat ini:
- Mual muntah
- Sakit kepala
- Perut kembung
- Sakit perut
- Diare
Berkonsultasilah melalui Chat Bersama Dokter jika mengalami efek samping di atas, terutama bila tidak kunjung membaik. Dokter akan memberikan saran dan pengobatan untuk mengatasi keluhan tersebut.
Segera cari pertolongan medis ke IGD rumah sakit terdekat jika muncul reaksi alergi obat atau efek samping serius, seperti:
- Diare berat yang tidak kunjung reda, diare berdarah, atau kram perut yang berat
- Ruam berupa luka lepuh yang disertai pengelupasan kulit
- Gejala infeksi baru, misalnya sakit tenggorokan dan demam yang tidak kunjung sembuh
- Kesulitan menelan atau bernapas
- Kejang
- Gejala gangguan fungsi hati, seperti nyeri perut berat, urine berwarna gelap, tinja berwarna pucat, perut bengkak dan nyeri, hilang nafsu makan, serta warna kulit dan mata menguning (penyakit kuning)
- Gangguan ginjal, yang dapat ditandai dengan perubahan jumlah urine, bengkak di pergelangan kaki maupun kaki, mudah lelah, atau sesak napas
