Parasista adalah obat untuk meredakan demam dan nyeri ringan hingga sedang, sekaligus membantu mengencerkan dahak pada saluran pernapasan. Obat ini tersedia dalam bentuk kaplet salut selaput dan termasuk obat bebas terbatas.

Parasista mengandung kombinasi paracetamol dan acetylcysteine. Paracetamol berperan sebagai pereda nyeri dan penurun demam. Sementara itu, acetylcysteine berfungsi mengencerkan lendir di saluran pernapasan, sehingga dahak lebih mudah dikeluarkan dan napas terasa lebih lega.

Parasista

Apa Itu Parasista

Bahan aktif Paracetamol 500 mg & acetylcysteine 200 mg
Golongan  Obat bebas terbatas
Kategori  Kombinasi analgetik-antipiretik (paracetamol) & obat batuk jenis mukolitik (acetylcysteine)
Manfaat Menurunkan demam, meredakan nyeri ringan hingga sedang, serta mengencerkan dahak
Digunakan oleh Dewasa dan anak-anak
Parasista untuk ibu hamil Kategori B: Studi pada binatang percobaan tidak memperlihatkan adanya risiko terhadap janin, tetapi belum ada studi terkontrol pada ibu hamil.
Parasista umumnya dianggap aman digunakan selama kehamilan bila dikonsumsi sesuai dosis. Namun, konsultasi dengan dokter tetap diperlukan sebelum memulai pengobatan.
Parasista untuk ibu menyusui Kandungan paracetamol dan acetylcysteine dalam Parasista dapat digunakan selama masa menyusui selama sesuai dengan anjuran dokter.
Bentuk obat Kaplet salut selaput

Peringatan sebelum Menggunakan Parasista

Parasista tidak boleh digunakan sembarangan. Sebelum menggunakan obat ini, pastikan untuk memberi tahu dokter mengenai hal-hal berikut:

  • Beri tahu dokter tentang riwayat alergi yang Anda miliki. Obat ini tidak boleh digunakan jika Anda memiliki alergi terhadap paracetamol, acetylcysteine, atau kandungan lain di dalamnya.
  • Sampaikan kepada dokter jika Anda memiliki riwayat penyakit tertentu, seperti penyakit liver, penyakit ginjal, tekanan darah tinggi, gagal jantung, asma, sakit maag, tukak lambung, atau varises esofagus.
  • Apabila Anda sedang menjalani diet khusus, seperti diet rendah garam, beri tahu dokter sebelum menggunakan obat ini.
  • Jangan konsumsi alkohol selama menjalani pengobatan dengan Parasista karena dapat meningkatkan risiko kerusakan hati, terutama saat menggunakan paracetamol. Beri tahu dokter jika Anda mengonsumsi alkohol secara rutin atau memiliki gangguan kecanduan alkohol.
  • Informasikan kepada dokter jika Anda sedang hamil, menyusui, atau merencanakan kehamilan.
  • Beritahukan juga semua obat yang sedang Anda konsumsi, termasuk obat bebas, obat batuk seperti dextromethorphan, codeine, atau noscapine, suplemen, maupun produk herbal, untuk mencegah interaksi obat yang berbahaya.
  • Segera ke dokter jika muncul reaksi alergi atau efek samping yang serius setelah menggunakan Parasista.

Dosis dan Aturan Pakai Parasista

Dokter akan menentukan dosis Parasista berdasarkan usia dan berat badan pasien. Secara umum, berikut ini adalah dosis paracetamol dan acetylcysteine yang terkandung dalam Parasista:

  • Dewasa dan anak usia > 11 tahun: 1 kaplet, 3 kali per hari
  • Anak usia 6-11 tahun: ½-1 kaplet, 3 kali per hari
  • Anak usia 1-5 tahun: ¼-½ kaplet, 3 kali per hari

Cara Menggunakan Parasista dengan Benar 

Gunakan Parasista sesuai dengan petunjuk yang tertera pada label kemasan atau sesuai anjuran dokter. Jangan menambah, menggandakan, atau mengurangi dosis tanpa berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu.

Untuk mendapat manfaat maksimal obat dan terhindar dari efek samping, perhatikan cara penggunaannya yang benar berikut ini:

  • Parasista dapat dikonsumsi sebelum maupun sesudah makan. Minumlah obat dengan air putih, tidak disarankan dikunyah atau dihancurkan kecuali sesuai petunjuk dokter.
  • Konsumsi obat pada waktu yang sama setiap hari agar hasil pengobatan lebih efektif.
  • Jika lupa minum obat, segera konsumsi Parasista begitu teringat. Namun, jangan menggandakan dosis jika jadwal minum berikutnya sudah dekat.
  • Obat ini tidak dianjurkan untuk penggunaan jangka panjang. Konsumsi bisa dihentikan setelah keluhan membaik.
  • Segera periksakan diri ke dokter apabila demam tidak kunjung reda dalam waktu 3 hari, nyeri menetap lebih dari 7 hari, atau batuk berdahak yang tidak membaik.
  • Pada anak-anak, pemeriksaan ke dokter perlu segera dilakukan jika demam berlangsung lebih dari 3 hari atau keluhan nyeri tidak menunjukkan perbaikan setelah 5 hari.
  • Simpan obat di tempat sejuk dan kering, terlindung dari paparan sinar matahari langsung, dan pastikan obat disimpan di luar jangkauan anak-anak.

Interaksi Parasista dengan Obat Lain 

Perlu diketahui, Parasista bisa berinteraksi dengan obat lain yang sedang dikonsumsi. Hal ini terjadi ketika efek Parasista berubah karena dikombinasikan dengan obat lain, sehingga bisa memengaruhi efektivitas atau meningkatkan risiko efek samping.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan tentang interaksi Parasista dengan obat lain antara lain:

  • Peningkatan risiko terjadinya kerusakan hati jika digunakan bersamaan dengan obat lain yang bersifat hepatotoksik, seperti beberapa antibiotik, obat anti-TBC, atau alkohol.
  • Penurunan efektivitas acetylcysteine jika digunakan bersama antitusif (obat batuk penekan refleks batuk).
  • Peningkatan risiko terjadinya perdarahan jika paracetamol digunakan bersama obat pengencer darah, seperti warfarin.

Untuk menghindari efek interaksi yang tidak diinginkan, berkonsultasilah dengan dokter jika hendak menggunakan Parasista bersama obat, suplemen, atau produk herbal apa pun.

Efek Samping dan Bahaya Parasista

Penggunaan Parasista bisa menimbulkan sejumlah efek samping. Beberapa efek samping yang ringan dan umum, antara lain:

  • Mual, muntah, sakit perut, diare
  • Ruam kulit ringan atau gatal
  • Sakit kepala atau pusing

Konsultasikan ke dokter jika keluhan atau efek samping di atas tidak juga mereda atau justru makin parah. Anda bisa menggunakan fitur Chat Bersama Dokter atau membuat janji konsultasi langsung melalui aplikasi Alodokter.

Segera periksakan diri ke dokter jika Anda mengalami reaksi alergi atau efek samping yang lebih serius, seperti:

  • Memar atau perdarahan yang tidak biasa
  • Nyeri di perut bagian kanan atas
  • Urine berwarna gelap
  • Feses berwarna pucat seperti tanah liat
  • Kulit atau bagian putih mata menguning (penyakit kuning)
  • Batuk berdarah atau muntah yang tampak seperti bubuk kopi
  • Nyeri dada, sesak napas, atau bunyi napas mengi
  • Muntah yang terus-menerus dan makin parah