Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan seputar gejala yang dialami, penyakit yang diderita oleh anggota keluarga lain, obat yang dikonsumsi, serta gaya hidup.

Setelah mengajukan pertanyaan-pertanyaan terkait hal-hal di atas, dokter akan melakukan pemeriksaan saraf dan mental. Pemeriksaan ini dilakukan untuk menilai keseimbangan, koordinasi tubuh, refleks, pendengaran, penglihatan, dan kekuatan otot. Pemeriksaan tersebut juga akan menilai daya ingat dan kemampuan berpikir penderita, yang kemudian akan dibandingkan dengan orang yang seumur dan setara tingkat pendidikannya.

Untuk memastikan ada-tidaknya penyebab lain dari gejala yang dialami penderita, dokter akan menyarankan penderita untuk melakukan pemeriksaan sebagai berikut:

  • Pemeriksaan darah. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui apakah ada kondisi lain yang menyebabkan pasien mengalami penurunan daya ingat atau tampak kebingungan, misalnya kekurangan vitamin atau gangguan hormon tiroid, sifilis, HIV, dan radang otak.
  • Pemindaian otak. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mendeteksi kelainan atau perubahan di dalam otak, dan memastikan penyebab dari gejala yang muncul. Metode pemindaian otak bisa dilakukan dengan CT scan atau MRI.
  • Pungsi lumbal. Pungsi lumbal dilakukan untuk mengambil cairan otak dan saraf tulang belakang, melalui celah di tulang belakang. Pungsi lumbal dilakukan untuk memeriksa apakah penderita mengalami infeksi otak.

Sebenarnya cara paling akurat untuk menentukan ada tidaknya penyakit Alzheimer adalah dengan memeriksa jaringan otak, namun hanya bisa dilakukan melalui autopsi setelah penderita meninggal.