Penyakit pada sistem reproduksi yang disebabkan virus adalah infeksi yang menyerang organ reproduksi pria maupun wanita akibat virus tertentu. Sebagian besar penyakit ini ditularkan melalui hubungan seksual, tetapi ada juga yang dapat menyebar melalui kontak langsung dengan cairan tubuh atau dari ibu ke janin selama masa kehamilan.
Sistem reproduksi manusia rentan terhadap berbagai jenis infeksi, salah satunya adalah infeksi yang disebabkan oleh virus. Infeksi ini tidak hanya menyebabkan keluhan pada organ intim, tetapi juga bisa memengaruhi kesehatan jangka panjang jika tidak ditangani.

Penyakit pada sistem reproduksi yang disebabkan virus sering kali tidak menimbulkan gejala pada tahap awal. Akibatnya, banyak penderita yang tidak menyadari dirinya terinfeksi hingga penyakit berkembang atau menularkan virus kepada orang lain. Oleh karena itu, penting untuk mengenali berbagai jenis penyakit pada sistem reproduksi yang disebabkan virus, serta langkah pencegahannya agar kesehatan reproduksi tetap terjaga.
Jenis Penyakit pada Sistem Reproduksi yang Disebabkan Virus
Berikut beberapa penyakit pada sistem reproduksi yang disebabkan virus dan penting untuk dikenali:
1. Herpes genital
Salah satu penyakit pada sistem reproduksi yang disebabkan virus adalah herpes genital. Penyakit ini disebabkan oleh virus herpes simpleks (HSV), terutama HSV tipe 2 (HSV-2). Gejalanya biasanya berupa lepuhan atau bintil kecil berisi cairan di area kelamin, anus, atau sekitarnya yang terasa nyeri.
Virus penyebab herpes genital sangat mudah menular, terutama lewat kontak kulit ke kulit saat berhubungan seksual, bahkan ketika tidak ada luka yang terlihat. Selain itu, virus herpes juga akan tetap berada di dalam tubuh setelah terinfeksi, sehingga gejalanya dapat kambuh sewaktu-waktu, terutama ketika daya tahan tubuh menurun.
2. Kutil kelamin
Penyakit pada sistem reproduksi yang disebabkan virus selanjutnya adalah kutil kelamin (condyloma accuminata). Penyakit ini umumnya disebabkan oleh human papillomavirus (HPV), terutama HPV tipe 6 dan HPV tipe 11.
Kutil umumnya muncul beberapa minggu hingga bulan setelah tubuh terinfeksi virus HPV melalui hubungan seksual. Ini biasanya muncul berupa benjolan kecil dengan warna serupa dengan kulit atau lebih gelap di sekitar alat kelamin atau anus. Terkadang, kutil dapat muncul tunggal, bisa juga berkelompok dan membentuk struktur menyerupai kembang kol, dan bisa disertai dengan rasa gatal atau bahkan nyeri.
3. Kanker serviks
Kanker serviks juga merupakan penyakit pada sistem reproduksi yang disebabkan virus HPV, terutama HPV tipe 16 dan HPV tipe 18. Kondisi ini bisa terjadi ketika virus HPV menyebabkan perubahan atau mutasi pada sel-sel sehat di serviks sehingga sel-sel tersebut tumbuh secara tidak normal dan membentuk sel kanker.
Gejala kanker serviks biasanya baru terasa saat kanker sudah memasuki stadium lanjut. Nah, pada kondisi ini, penderita biasanya akan mengalami perdarahan diluar masa menstruasi atau setelah berhubungan, keputihan berbau, dan nyeri panggul.
4. Hepatitis B
Meski umumnya menyebabkan gangguan hati, hepatitis B juga termasuk penyakit pada sistem reproduksi yang disebabkan virus. Pasalnya, hepatitis B yang tidak ditangani dengan baik diketahui dapat memengaruhi kesehatan reproduksi dan berisiko menurunkan kualitas dan jumlah sperma sehingga mengurangi peluang terjadinya kehamilan.
Kondisi ini awalnya tidak menimbulkan gejala apapun. Namun, bila muncul, hepatitis B dapat menyebabkan penderitanya mengalami keluhan, seperti kulit dan mata menguning, mual, muntah, nyeri perut, urine berwarna gelap, mudah lelah, serta penurunan nafsu makan.
5. HIV/AIDS
HIV/AIDS merupakan penyakit yang disebabkan oleh human immunodeficiency virus. Virus ini umumnya memang menyerang dan melemahkan sistem kekebalan tubuh, tetapi ketika hal ini terjadi, penderita menjadi lebih rentan mengalami berbagai infeksi, termasuk penyakit menular seksual (STD).
Selain itu, HIV/AIDS yang tidak diatasi dengan baik juga bisa menular dari ibu hamil ke janinnya dan dapat memengaruhi keseimbangan hormon di dalam tubuh sehingga berisiko mengganggu fungsi organ reproduksi, baik pada pria maupun wanita.
6. Molluscum contagiosum
Molluscum contagiosum merupakan penyakit pada sistem reproduksi yang disebabkan virus Molluscum contagiosum. Penyakit ini menyebabkan tumbuhnya benjolan atau bintil kecil seperti jerawat di kulit area kemaluan yang terkadang disertai dengan rasa gatal.
Meski tergolong ringan dan bisa sembuh dengan sendirinya, benjolan Molluscum contagiosum bisa bertambah banyak dan menular ke orang lain jika tidak segera diatasi. Nah, penularannya biasanya melalui kontak dengan barang yang digunakan oleh penderita, misalnya pakaian atau handuk, serta hubungan seksual.
7. Cytomegalovirus
Cytomegalovirus (CMV) termasuk penyakit pada sistem reproduksi yang disebabkan virus dari keluarga herpes, yaitu Cytomegalovirus. Pasalnya, virus ini diketahui dapat menular dari ibu ke janin dan jika hal ini terjadi CMV berisiko dapat menyebabkan gangguan perkembangan pada bayi.
Pada orang dewasa, CMV umumnya tidak menimbulkan gejala sama sekali. Namun, bila muncul, beberapa penderita bisa mengalami keluhan berupa demam, mudah lelah, nyeri otot, sakit tenggorokan, dan sakit kepala. Sementara pada janin atau bayi, gejala infeksi CMV dapat terlihat pada saat lahir atau beberapa tahun kemudian. Gejalanya bisa berupa berat badan lahir rendah, ukuran kepala bayi kecil (mikrosefalus), serta kulit dan mata berwarna kuning.
8. Gondongan
Gondongan merupakan peradangan pada kelenjar parotis (kelenjar ludah) akibat infeksi virus dari golongan paramyxovirus. Meski umumnya menyerang kelenjar ludah, virus penyebab gondongan juga bisa menyebar dan menginfeksi sistem reproduksi, terutama testis.
Jika hal itu terjadi, virus penyebab gondongan dapat menyebabkan terjadinya radang testis (orchitis) yang ditandai dengan nyeri, bengkak, dan demam, serta dapat membuat pria mengalami infertilitas (mandul).
9. Rubella
Rubella atau campak Jerman juga termasuk penyakit pada sistem reproduksi yang disebabkan virus Rubella. Hal ini karena virus Rubella juga dapat menular dari ibu hamil ke janin yang dikandungnya melalui aliran darah.
Nah, jika hal itu terjadi, virus Rubella yang menyebar ke janin dapat menyebabkan congenital rubella syndrome (CRS). Kondisi ini dapat mengakibatkan kelainan bawaan pada bayi, seperti gangguan pendengaran, kelainan jantung, gangguan penglihatan, serta keterlambatan tumbuh kembang.
Cara Mencegah Penularan Penyakit pada Sistem Reproduksi yang Disebabkan Virus
Ada beberapa langkah yang bisa Anda lakukan untuk mencegah penularan penyakit pada sistem reproduksi yang disebabkan virus, berikut ini di antaranya:
1. lakukan vaksinasi
Beberapa penyakit pada sistem reproduksi yang disebabkan virus, seperti kutil kelamin, kanker serviks, hepatitis B, rubella, dan gondongan, bisa dicegah dengan melakukan vaksinasi. Namun, tergantung jenis vaksinnya dan usia Anda, tiap vaksin memiliki jadwal serta jumlah dosis pemberian yang berbeda-beda.
Misal, vaksin HPV untuk mencegah kutil kelamin dan kanker serviks biasanya diberikan 2 kali dengan selang waktu 12 bulan untuk anak-anak dan remaja perempuan usia 9–14 tahun yang belum aktif secara seksual. Sementara itu, orang dengan usia di atas 15–26 tahun, vaksin HPV akan diberikan 3 kali dengan jarak waktu 2 bulan antara vaksinasi pertama dan kedua, serta 6 bulan antara vaksin kedua dan ketiga.
Oleh karena itu, konsultasikan dengan dokter untuk mengetahui jenis vaksin yang sesuai, jadwal pemberian, serta jumlah dosis yang dibutuhkan sesuai usia dan kondisi kesehatan Anda.
2. Gunakan kondom saat berhubungan seksual
Semua penyakit pada sistem reproduksi yang disebabkan virus dapat menular melalui kontak langsung dengan sperma atau cairan vagina saat berhubungan seksual, baik secara vaginal, anal, maupun oral. Oleh karena itu, untuk mencegah penularan penyakit pada sistem reproduksi yang disebabkan virus, gunakanlah kondom setiap kali berhubungan seksual.
Walaupun tidak dapat melindungi 100%, terutama untuk luka atau benjolan di area yang tidak tertutup kondom, penggunaannya tetap dapat sangat membantu dalam mengurangi risiko penularan penyakit pada sistem reproduksi yang disebabkan virus.
3. Setia pada satu pasangan seksual
Cara lain yang bisa Anda lakukan untuk mengurangi risiko terkena penyakit pada sistem reproduksi yang disebabkan virus adalah dengan tidak bergonta-ganti pasangan hubungan seks.
Selain itu, jika Anda ingin berhubungan intim tanpa kondom atau menduga diri Anda atau pasangan sudah atau berisiko menderita salah satu penyakit pada sistem reproduksi yang disebabkan virus, lakukanlah pemeriksaan secara rutin dan ikuti anjuran pengobatan yang telah diresepkan oleh dokter. Dengan begitu, Anda dan pasangan pun akan terhindar dari penyakit pada sistem reproduksi yang disebabkan virus.
4. Hindari penggunaan jarum yang tidak steril
Penggunaan jarum pada aktivitas medis maupun nonmedis, seperti pembuatan tato atau tindik secara bergantian atau kurang steril dapat meningkatkan risiko Anda terkena penyakit pada sistem reproduksi yang disebabkan virus.
Oleh karena itu, jika Anda ingin ditato atau ditindik, lakukanlah di tempat yang terpercaya dan pastikan alat yang digunakan steril. Dengan begitu, Anda pun akan terhindar dari penyakit pada sistem reproduksi yang disebabkan virus.
5. Jaga kebersihan diri dan lingkungan
Virus penyebab penyakit pada sistem reproduksi yang disebabkan virus dapat menyebar melalui tangan dan barang-barang. Oleh karena itu, selalu jaga kebersihan tubuh, terutama organ reproduksi, dan barang-barang di sekitar Anda, serta tidak memakai barang pribadi secara bersama-sama guna membantu mencegah penularan penyakit pada sistem reproduksi yang disebabkan virus.
6. Pemeriksaan rutin ke dokter
Skrining berkala atau tes kesehatan, seperti pap smear untuk wanita dan pemeriksaan infeksi menular seksual lainnya, dapat membantu mendeteksi penyakit pada sistem reproduksi yang disebabkan virus sejak dini sebelum menimbulkan komplikasi.
Pemeriksaan rutin bahkan sangat dianjurkan untuk Anda yang telah aktif secara seksual, terutama jika memiliki lebih dari satu pasangan atau mengalami gejala yang mengindikasi salah satu penyakit pada sistem reproduksi yang disebabkan virus.
7. Edukasi dan komunikasi terbuka
Edukasi tentang cara penularan, gejala, serta pentingnya deteksi dini dan vaksinasi sangat membantu mencegah penyebaran penyakit. Jangan ragu berdiskusi dengan pasangan atau anak remaja mengenai pentingnya menjaga kesehatan reproduksi dan mencegah perilaku berisiko.
Itulah beberapa jenis penyakit pada sistem reproduksi yang disebabkan virus. Nah, untuk melindungi diri Anda dan orang di sekitar dari risiko terkena penyakit-penyakit tersebut, penting untuk menerapkan langkah-langkah pencegahan di atas.
Namun, jika Anda terlanjur mengalami keluhan yang menyerupai gejala dari salah satu penyakit pada sistem reproduksi yang disebabkan virus di atas, segera Chat Bersama Dokter di aplikasi ALODOKTER untuk mendapatkan penanganan yang tepat dan cepat. Dengan begitu, risiko terjadinya penularan ke orang lain pun bisa dicegah.