Obat nyeri haid umum dikonsumsi oleh wanita yang kerap mengalami nyeri haid yang tak tertahankan. Ada beragam obat nyeri haid. Masing-masing dari obat tersebut memiliki efek samping dan cara kerja yang berbeda.

Nyeri haid atau dismenore adalah keluhan nyeri atau kram di perut bagian bawah yang bisa muncul pada saat seorang wanita sedang haid atau beberapa hari sebelumnya.

Pilihan Obat Nyeri Haid yang Aman untuk Dikonsumsi - Alodokter

Nyeri haid yang muncul bisa bersifat ringan, tetapi terkadang terasa cukup berat dan begitu menyakitkan. Nyeri haid yang mengganggu ini bisa diatasi dengan menggunakan obat nyeri haid.

Beberapa Pilihan Obat Nyeri Haid

Sebelum mengonsumsi obat, ada beberapa cara alami yang bisa Anda lakukan untuk mengatasi keluhan nyeri haid, misalnya dengan mandi air hangat, menempelkan kompres hangat pada perut, minum air putih yang cukup, berolahraga, dan melakukan relaksasi, misalnya dengan melakukan yoga atau meditasi.

Selain itu, beberapa bahan alami, seperti teh herbal, teh kamomil, jahe, dan kayu manis, juga dianggap bisa membantu mengatasi nyeri haid, khususnya yang ringan.

Apabila berbagai cara alami meredakan nyeri haid tersebut tidak efektif, ada beberapa jenis obat nyeri haid yang bisa Anda coba, yaitu:

1. Paracetamol

Obat nyeri haid yang mudah ditemukan dan bisa digunakan secara bebas tanpa resep dokter adalah paracetamol (Panadol, Sanmol, Sumagesic). Obat ini juga kerap digunakan untuk mengatasi demam.

Paracetamol bisa membantu meredakan keluhan nyeri haid ringan, tetapi mungkin kurang efektif untuk mengatasi nyeri haid yang parah. Selain itu, obat nyeri haid ini umumnya lebih direkomendasikan bagi orang yang memiliki riwayat penyakit maag atau refluks asam lambung (GERD).

Pasalnya, tak seperti obat pereda nyeri jenis ibuprofen, aspirin, atau diclofenac, paracetamol cenderung tidak membuat asam lambung naik sehingga lebih aman bagi Anda yang memiliki riwayat maag atau GERD.

2. Ibuprofen

Sama seperti paracetamol, obat nyeri haid ini juga bisa dibeli bebas dan cukup aman dikonsumsi. ibuprofen dapat menurunkan produksi prostaglandin dalam tubuh yang menjadi pemicu munculnya nyeri dan kram perut ketika haid.

Obat ini bisa dikonsumsi selama 2−3 hari sejak nyeri haid muncul atau hingga nyeri haid hilang. Namun, penggunaannya sebaiknya tidak lebih dari 10 hari, kecuali atas rekomendasi dokter.

Meski bisa digunakan secara bebas, ibuprofen tidak cocok dikonsumsi oleh semua orang. Penggunaan obat nyeri haid ini sebaiknya dihindari, jika Anda memiliki riwayat penyakit tertentu, seperti penyakit maag, asma, gagal ginjal, gagal jantung, atau alergi terhadap ibuprofen dan jenis obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) lainnya.

3. Aspirin

Aspirin adalah obat yang digunakan untuk meredakan nyeri, peradangan, dan demam. Sama halnya dengan ibuprofen, obat yang masih tergolong obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) ini mampu menurunkan kadar prostaglandin yang memicu munculnya nyeri haid.

Aspirin bisa mengatasi nyeri haid ringan hingga sedang. Namun, Anda harus menggunakannya setelah makan, karena obat ini berisiko menyebabkan efek samping berupa sakit perut, mual, atau bahkan muntah, terutama pada penderita penyakit maag atau gangguan lambung.

Selain itu, Anda juga perlu berkonsultsi ke dokter sebelum menggunakan aspirin sebagai obat nyeri haid, jika Anda memiliki riwayat penyakit asma, tekanan darah tinggi, penyakit jantung, atau gangguan pembekuan darah.

4. Asam mefenamat

Asam mefenamat juga termasuk salah satu obat nyeri haid, khususnya untuk kasus nyeri haid ringan hingga sedang. Walau demikian, obat ini sebaiknya dikonsumsi sesuai resep dan anjuran dokter.

Cara kerja asma mefenamat dalam mengurangi nyeri haid sama seperti ibuprofen dan aspirin, yaitu menurunkan produksi prostaglandin yang memicu rasa sakit. Meski bisa dijadikan sebagai salah satu obat nyeri haid, konsumsi obat ini tidak boleh lebih dari 3 hari, kecuali memang atas saran dari dokter.

5. Diclofenac

Obat ini kerap digunakan untuk mengatasi nyeri sendi, sakit gigi, atau nyeri akibat asam urat. Namun, diclofenac juga bisa digunakan untuk mengatasi nyeri haid, khususnya nyeri haid yang cukup berat.

Meski demikian, obat ini tidak bisa dikonsumsi secara bebas dan hanya bisa diperoleh sesuai resep dokter. Jika dosisnya tidak tepat, diclofenac bisa menimbulkan beberapa efek samping yang berbahaya, seperti gangguan jantung, gangguan pembekuan darah, kerusakan ginjal dan hati, serta luka pada lambung.

6. Ketoprofen

Ketoprofen juga termasuk golongan obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS). Ketoprofen meredakan nyeri haid dengan cara menekan produksi prostaglandin dalam tubuh yang menyebabkan peradangan dan nyeri.

Meski bisa membantu meringankan nyeri haid, Anda tidak boleh mengonsumsi obat ini sembarangan. Pasalnya, obat ini bisa meningkatkan risiko terjadinya penyakit jantung dan tekanan darah tinggi jika dikonsumsi dalam jangka panjang atau dalam dosis yang tinggi.

7. Naproxen

Sama halnya dengan ibuprofen dan aspirin, naproxen juga masuk ke dalam golongan obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) yang dapat digunakan sebagai obat pereda nyeri haid. Obat ini umumnya baru diresepkan, jika Anda memiliki alergi terhadap obat nyeri haid jenis lain.

Selain untuk mengatasi nyeri haid, naproxen juga bisa digunakan untuk mengatasi sakit pinggang, rheumatoid arthritis, radang sendi (osteoarthritis), dan asam urat. Meski demikian, penggunaan obat ini juga bisa menyebabkan berbagai efek samping, seperti kelelahan, kantuk, mual, sakit perut, hingga sakit kepala.

Selain berbagai obat di atas, Anda juga bisa menggunakan obat nyeri haid lain, seperti celecoxib. Namun, obat ini hanya bisa digunakan sesuai resep dokter.

Nyeri haid adalah salah satu keluhan yang kerap menghantui kaum hawa, tapi biasanya nyeri ini bisa hilang dengan sendirinya seusai masa menstruasi. Oleh karena itu, penggunaan obat-obatan untuk mengatasi nyeri haid tidak dianjurkan untuk digunakan secara rutin, kecuali jika nyeri haid cukup parah hingga membatasi aktivitas Anda.

Apabila Anda sudah mencoba berbagai cara untuk mengatasi nyeri haid, termasuk mengonsumsi obat nyeri haid, tapi rasa sakit yang dirasakan tak kunjung hilang atau justru semakin parah, sebaiknya konsultasikan kepada dokter.

Hal ini penting agar dokter dapat memastikan penyebab nyeri haid yang Anda alami dan memberikan penanganan yang tepat sesuai dengan kondisi Anda