Untuk memperoleh diagnosis penyakit asam urat, dokter akan terlebih dahulu menanyakan riwayat penyakit pasien, dan seberapa sering gejala muncul, serta melihat lokasi sendi yang sakit. Setelah itu, pemeriksaan lanjutan akan dilakukan untuk memastikan adanya kristal pemicu nyeri pada persendian, seperti:

  • Tes darah. Tes darah dilakukan untuk mengukur kadar asam urat dan kreatinin dalam darah. Seseorang dengan kadar asam urat dalam darah hingga 7 mg/dL, dinilai sudah menderita penyakit asam urat. Namun demikian, tes ini tidak selalu dapat memastikan penyakit asam urat. Beberapa orang diketahui memiliki kadar asam urat tinggi, namun tidak menderita penyakit asam urat. Sebaliknya, ada orang yang memiliki gejala dan tanda penyakit asam urat meski kadar asam urat dalam darah normal.
  • Tes urine 24 jam. Prosedur ini dilakukan dengan memeriksa kadar asam urat dalam urine yang dikeluarkan pasien selama 24 jam.
  • Tes cairan sendi. Prosedur ini mengambil cairan sinovial pada sendi yang sakit, untuk diperiksa di bawah mikroskop.
  • Pencitraan. Pemeriksaan foto Rontgen dapat dilakukan untuk mengetahui penyebab radang pada sendi. Sedangkan USG dapat mendeteksi kristal asam urat pada sendi dan tofi (benjolan).
  • Dual energy CT scan. Pemeriksaan ini dapat mendeteksi kristal asam urat di sendi meski tidak terjadi peradangan.
  • Biopsi sinovial. Prosedur ini mengambil sebagian kecil jaringan (membran sinovial) di sekitar sendi yang terasa sakit, untuk diperiksa di bawah mikroskop.