Rhabdomyosarcoma adalah kanker yang tumbuh dari otot rangka, yaitu yang dapat diatur gerakannya. Otot rangka bukan hanya terletak di lengan dan tungkai, tetapi juga berada di kepala dan leher, kandung kemih, serta dada dan perut. Seluruh tempat tersebut merupakan tempat di mana rhabdomyosarcoma biasa tumbuh.

Rhabdomyosarcoma - alodokter

Rhabdomyosarcoma (RMS) tergolong jenis kanker yang jarang terjadi. Terdapat beberapa jenis rhabdomyosarcoma, antara lain:

  • Embryonal rhabdomyosarcoma, yaitu jenis rhabdomyosarcoma yang paling sering terjadi dan menjangkiti otot kepala, leher, saluran kemih, dan alat kelamin. Walaupun tergolong cepat berkembang, tetapi biasanya dapat memberikan hasil yang baik dengan pengobatan. Penderita embryonal rhabdomyosarcoma adalah anak-anak usia 6 tahun ke bawah.
  • Alveolar rhabdomyosarcoma, yaitu jenis rhabdomyosarcoma yang lebih sering dialami oleh remaja, dan menjangkiti otot lengan, tungkai, dada, atau perut. Kondisi ini membutuhkan perawatan lebih intensif karena tumor lebih cepat berkembang dibanding jenis embryonal rhabdomyosarcoma.
  • Pleomorphic rhabdomyosarcoma, yaitu jenis rhabdomyosarcoma yang lebih sering menyerang orang dewasa dan mengenai otot lengan dan tungkai.

Gejala Rhabdomyosarcoma

Gejala rhabdomyosarcoma yang muncul, tergantung dari besar dan lokasi tumor, serta stadium keparahan dari kanker yang dialami penderita.

Berikut ini adalah beberapa gejala yang mungkin muncul pada area tubuh tertentu:

  • Tumor pada otot leher, dada, punggung, lengan, tungkai dan selangkangan (termasuk testis) -  gejala berupa benjolan yang terkadang dapat menimbulkan nyeri serta berwarna kemerahan.
  • Tumor di sekitar otot mata - mengakibatkan mata seperti menonjol keluar, terlihat seperti mata juling, serta penglihatan juga terganggu.
  • Tumor pada perut - gejala berupa muntah, perut terasa nyeri, serta perubahan pola buang air besar.
  • Tumor pada kandung kemih, vagina, atau prostat - gejala berupa keluar darah pada urine atau perdarahan dari vagina. Tumor yang sudah sangat besar dapat menyebabkan kesulitan buang air kecil atau buang air besar.
  • Tumor pada telinga dan hidung - gejala berupa nyeri pada telinga, hidung tersumbat, serta mimisan dan keluar darah dari telinga.

Saat tumor semakin membesar parah atau sudah menyebar ke organ lain dapat menimbulkan keluhan kesemutan dan kelemahan otot akibat saraf yang tertekan, serta batuk, sesak, pucat, dan nyeri tulang, tergantung penyebaran tumor.

Penyebab Rhabdomyosarcoma

Hingga saat ini, penyebab pasti rhabdomyosarcoma belum diketahui. Seperti layaknya kanker lain, rhabdomyosarcoma terjadi karena adanya pertumbuhan sel-sel secara abnormal. Beberapa faktor yang diduga dapat meningkatkan risiko seseorang menderita rhabdomyosarcoma, antara lain adalah:

  • Menderita kelainan genetik, seperti neurofibromatosis tipe 1, sindrom Li-Fraumeni, sindrom Beckwith-Wiedemann, sindrom Costello, dan sindrom Noonan.
  • Paparan sinar radiasi saat masih di kandungan.
  • Menggunakan ganja dan kokain saat kehamilan.
  • Kecanduan alkohol saat kehamilan.

 Diagnosis dan Stadium Rhabdomyosarcoma

Untuk memastikan rhabdomyosarcoma, dokter akan melaksanakan serangkaian pemeriksaan. Serangkaian pemeriksaan tersebut meliputi tes darah lengkap, termasuk perhitungan sel darah yang menunjukkan anemia, serta tes fungsi hati dan laktat dehidrogenase yang menunjukkan peningkatan. Tes darah untuk melihat fungsi ginjal dan tes urin akan dilakukan bila terdapat buang air kecil berdarah.

Selain tes darah dan urine, pencitraan juga dapat dilaksanakan guna mengetahui lokasi keberadaan tumor dan melihat penyebarannya. Pemeriksaan yang dilakukan dapat berupa foto Rontgen, CT scan, MRI, USG, Bone scan, dan PET scan. Namun pemeriksaan pencitraan tersebut tidak dapat memastikan jenis tumor. Jenis dari tumor tersebut hanya dapat dipastikan melalui pemeriksaan sampel jaringan yang diperiksa di bawah mikroskop (biopsi).

Terkadang juga dibutuhkan pemeriksaan penyedotan (aspirasi) darah sumsum tulang untuk melihat penyebaran.

Pada pasien yang terdiagnosis rhabdomysarcoma, dokter akan menentukan stadium guna menentukan tindakan pengobatan yang akan dilakukan. Stadium sel kanker terbagi dalam empat tahap atau stadium, yaitu:

  • Stadium 1. Pada kondisi ini, tumor yang mengandung sel kanker bermula pada otot sekitar mata, kelapa dan leher (kecuali dekat selaput otak), saluran kemih dan kelamin (kecuali kandung kemih dan prostat), dan saluran empedu. Tumor dapat menyerang kelenjar getah bening dan area sekitar, tetapi belum menyebar jauh. Ukuran tumor juga bervariasi.
  • Stadium 2. Sel kanker yang bermula pada otot kandung kemih dan prostat, lengan dan tungkai, otot dekat selaput otak, dan otot lain selain dari yang disebutkan pada stadium 1. Tumor berukuran maksimal 5 cm dan belum menyebar ke area lain, termasuk kelenjar getah bening dan area sekitar.
  • Stadium 3. Tumor yang asalnya sama dengan stadium 2, dapat berukuran maksimal 5 cm tetapi sudah menyebar ke kelenjar getah bening sekitar, atau berukuran lebih dari 5 cm. Tumor belum menyebar ke tempat yang lebih jauh.
  • Stadium 4. Pada stadium ini, telah terjadi metastasis atau penyebaran sel kanker ke organ lain, seperti paru-paru, hati, tulang, atau sumsum tulang.

Pengobatan Rhabdomyosarcoma

Penangan kasus rhabdomysarcoma dapat dilakukan berdasarkan jaringan asal dimana kanker tumbuh dan stadium dari rhabdomyosarcoma itu sendiri. Pilihan penanganan yang bisa dilakukan meliputi operasi, kemoterapi, dan radioterapi.

Operasi

Operasi dilakukan pada tumor yang masih memungkinkan untuk diangkat. Tujuan tindakan ini adalah untuk menghilangkan tumor utama dan jaringan di sekitarnya, sehingga bersih dari sel kanker. Jika tumor terlalu besar atau berada pada lokasi yang sulit dihilangkan, operasi dapat ditunda dan didahului dengan kemoterapi atau radioterapi.

Kemoterapi

Kemoterapi bertujuan untuk mengurangi ukuran tumor sebelum dioperasi dan mengurangi risiko kanker berulang setelah tindakan operasi. Dalam kemoterapi, obat yang digunakan untuk menangani rhabdomysarcoma adalah vincristine, cyclophosphamide, doxorubicin, dan etoposide.

Radioterapi

Selain kemoterapi, dapat dilakukan juga terapi radiasi untuk mematikan sel kanker yang tidak bisa diangkat. Radioterapi biasanya dikombinasikan dengan kemoterapi. Radiasi biasanya diberikan selama 5 hari dalam seminggu, dan dilakukan sampai beberapa minggu, dengan durasi waktu tiap sesi adalah sekitar 15-30 menit.