Rifastar adalah obat untuk mengatasi tuberkulosis (TBC) yaitu infeksi serius yang paling sering menyerang paru-paru. Obat ini bekerja paling efektif pada fase awal pengobatan TBC, membantu membunuh bakteri penyebab penyakit dan mencegah penyebaran infeksi.
Rifastar mengandung kombinasi rifampicin, isoniazid, pyrazinamide dan ethambutol. Obat ini bekerja dengan cara membunuh bakteri Mycobacterium tuberculosis penyebab TBC dan mencegah bakteri tersebut kebal terhadap obat. Rifastar tersedia dalam bentuk kaplet salut selaput dan hanya bisa didapatkan dengan resep dokter.

Apa Itu Rifastar
| Bahan Aktif | Rifampicin, isoniazid, pyrazinamide dan ethambutol |
| Golongan | Obat resep |
| Kategori | Antibiotik, antituberkulosis |
| Manfaat | Mencegah tuberkulosis |
| Digunakan oleh | Dewasa dan anak-anak |
| Rifastar untuk ibu hamil | Kategori C: Studi pada binatang percobaan memperlihatkan adanya efek samping terhadap janin, tetapi belum ada studi terkontrol pada ibu hamil. |
|
Studi pada hewan menunjukkan bahwa isoniazid dan rifampicin dapat menyebabkan keguguran atau cacat lahir. Namun, belum diketahui apakah hal yang sama akan terjadi pada manusia. Rifampicin yang diminum pada beberapa minggu terakhir kehamilan dapat meningkatkan risiko perdarahan pada ibu atau bayi baru lahir.Pyrazinamide berpotensi menyebabkan cacat lahir karena termasuk teratogen, yaitu zat yang dapat memengaruhi perkembangan janin. |
|
| Rifastar untuk ibu menyusui | Kandungan rifampicin, pyrazinamide, ethambutol dalam Rifastar dapat terserap ke dalam ASI. Jika Anda sedang menyusui, konsultasikan dengan dokter sebelum menggunakan obat ini. |
| Bentuk obat | Kaplet salut selaput |
Peringatan sebelum Menggunakan Rifastar
Sebelum memulai pengobatan dengan Rifastar, ada beberapa hal penting yang harus Anda ketahui agar penggunaan obat ini aman dan sesuai kebutuhan Anda, di antaranya:
- Informasikan kepada dokter jika Anda memiliki riwayat alergi rifampicin, isoniazid, pyrazinamide, ethambutol atau obat lain yang satu golongan dengan obat ini. Jika Anda pernah mengalami reaksi alergi serius akibat obat apa pun, sampaikan juga hal tersebut kepada dokter.
- Beri tahu dokter jika Anda pernah atau sedang menderita penyakit ginjal, penyakit liver, asam urat, diabetes, batuk berdarah, psikosis, malnutrisi, neuropati, epilepsi, porfiria, HIV, gangguan penglihatan, seperti neuritis optik, retinopati diabetik, katarak, atau uveitis.
- Sampaikan kepada dokter jika Anda memiliki riwayat kecanduan alkohol atau kesulitan menghentikan konsumsi alkohol, karena hal ini dapat meningkatkan risiko kerusakan hati selama pengobatan.
- Diskusikan dengan dokter bahwa Anda menggunakan Rifastar sebelum menjalani prosedur medis, termasuk operasi gigi.
- Informasikan kepada dokter jika Anda akan menerima vaksin bakteri hidup, karena penggunaan Rifastar dapat mengurangi efektivitas vaksin tersebut.
- Konsultasikan dengan dokter jika Anda sedang hamil, mungkin sedang hamil, menyusui, atau merencanakan kehamilan sebelum memulai pengobatan.
- Sampaikan kepada dokter jika Anda sedang mengonsumsi obat tertentu termasuk praziquantel, atazanavir, fosamprenavir, darunavir, saquinavir, ritonavir, tipranavir, antikoagulan, antibiotik jangka panjang, suplemen, atau herbal.
- Hindari langsung mengemudi atau melakukan aktivitas yang membutuhkan kewaspadaan tinggi setelah minum Rifastar, karena obat ini dapat menyebabkan pusing atau gangguan penglihatan.
- Hindari konsumsi minuman beralkohol selama menjalani pengobatan, karena dapat meningkatkan risiko efek samping pada hati.
- Segera cari bantuan medis jika Anda mengalami reaksi alergi atau efek samping serius selama menggunakan obat ini.
Dosis dan Aturan Pakai Rifastar
Dosis Rifastar dapat berbeda pada setiap orang dan ditentukan oleh dokter berdasarkan usia serta respons tubuh terhadap pengobatan. Berikut adalah dosis umum isoniazid, pyrazinamide, dan rifampicin yang terkandung dalam Rifastar:
Dewasa:
- BB 38-54 kg: 3 kaplet, 1 kali sehari
- BB 55-70 kg: 4 kaplet, 1 kali sehari
- BB >71 kg: 5 kaplet, 1 kali sehari
Anak-anak:
- BB 30-37 kg: 2 kaplet, 1 kali sehari
- BB 38-54 kg: 3 kaplet, 1 kali sehari
Cara Menggunakan Rifastar dengan Benar
Gunakan Rifastar sesuai dengan yang dianjurkan oleh dokter dan baca petunjuk pada label kemasan. Jangan menambah atau mengurangi dosis tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter. Menggunakan Rifastar dengan cara yang tepat membantu memaksimalkan manfaat obat dan mencegah efek samping, berikut penjelasannya:
- Konsumsilah Rifastar bersama makanan atau segera sesudah makan. Pastikan Anda selalu mengonsumsi Rifastar secara teratur sesuai dengan instruksi yang diberikan.
- Jika Anda mengonsumsi Rifastar setiap hari, konsumsi obat ini pada waktu yang sama setiap harinya agar pengobatan lebih efektif.
- Jika Anda lupa mengonsumsi Rifastar, segera minum obat ini saat ingat. Namun, jika sudah terlalu dekat dengan jadwal berikutnya, lewati dosis yang terlewat. Jangan menggandakan dosis untuk menggantikan yang terlewat, kecuali atas petunjuk dokter.
- Jangan menghentikan penggunaan Rifastar lebih cepat dari waktu yang ditentukan dokter walaupun keluhan yang Anda rasakan sudah hilang sepenuhnya. Penghentian obat tuberkulosis secara dini dapat menyebabkan bakteri tuberkulosis kebal terhadap obat. Akibatnya, tuberkulosis bisa kambuh dan lebih sulit diobati.
- Selama menjalani pengobatan tuberkulosis, lakukan pemeriksaan ke dokter sesuai jadwal yang ditentukan. Pada saat kontrol, dokter akan memantau perkembangan kondisi Anda dan mungkin menyesuaikan dosis obat yang tepat.
- Pantau berat badan secara berkala sesuai anjuran dokter selama mengonsumsi Rifastar, hal ini penting karena dosis obat disesuaikan dengan berat badan.
- Tetaplah disiplin dalam menerapkan protokol pencegahan tuberkulosis, baik di rumah maupun di luar rumah. Meski sudah menjalani pengobatan, Anda masih bisa menularkan tuberkulosis.
- Jangan gunakan Rifastar yang sudah kedaluwarsa. Simpanlah obat ini di tempat yang sejuk dan kering, jauh dari sinar matahari langsung. Pastikan juga disimpan jauh dari jangkauan anak-anak.
Interaksi Rifastar dengan Obat Lain
Beberapa obat dapat memengaruhi kerja Rifastar atau sebaliknya, sehingga mengenal interaksi ini penting untuk menghindari komplikasi selama pengobatan.
- Peningkatan kadar warfarin, clofazimine, ciclosporin, atau cycloserine dalam darah
- Peningkatan risiko terjadinya gangguan fungsi hati jika digunakan dengan leflunomide, lomitapide, mipomersen, pexidartinib, atau teriflunomide
- Peningkatan risiko terjadinya kerusakan hati jika digunakan dengan ritonavir dan halothane
- Peningkatan risiko terjadinya efek samping serius dari ethambutol, seperti kehilangan penglihatan, jika digunakan dengan vigabatrin
- Penurunan penyerapan dan efektivitas rifampicin, ethambutol, atau isoniazid jika digunakan dengan antasida yang mengandung aluminium hidroksida
- Penurunan efektivitas antikonvulsan, theophylline, ketoconazole, enalapril, pil KB, vaksin BCG, vaksin kolera, atau vaksin tifoid
- Penurunan efek terapi dari obat urikosurik, seperti probenecid atau sulfinpyrazone
Untuk menghindari efek interaksi yang tidak diinginkan, berkonsultasilah ke dokter jika hendak menggunakan Rifastar bersama obat, suplemen, atau produk herbal apa pun.
Efek Samping dan Bahaya Rifastar
Penggunaan Rifastar, berisiko menimbulkan efek samping, terutama bila penggunaannya menyalahi dosis. Efek samping yang muncul bisa berupa:
- Sakit kepala atau pusing
- Sakit perut
- Mual atau muntah
- Nyeri sendi
- Ruam kulit
- Nafsu makan berkurang
Konsultasikan diri Anda ke dokter bila keluhan dan efek samping di atas tidak kunjung mereda atau malah memburuk. Anda bisa menggunakan fitur Chat Bersama Dokter atau buat janji konsultasi di aplikasi Alodokter.
Hentikan penggunaan Rifastar dan segera periksakan diri jika terjadi efek samping serius, seperti:
- Reaksi alergi berat, seperti sesak napas, bengkak di wajah atau bibir, dan ruam gatal parah
- Gangguan penglihatan, seperti penglihatan kabur, perubahan warna penglihatan, atau kehilangan penglihatan secara bertahap
- Perubahan warna urine menjadi jingga kemerahan
- Kulit atau mata menguning