Sindrom Turner dapat menyebabkan berbagai komplikasi yang memengaruhi kesehatan penderitanya. Kondisi kelainan kromosom yang hanya terjadi pada perempuan ini tidak hanya berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan seksual, tetapi juga dapat memengaruhi fungsi organ lain, seperti jantung, ginjal, hingga sistem hormon.

Berikut ini beberapa komplikasi yang kerap terjadi pada penderita sindrom Turner:

1. Diabetes

Penderita sindrom Turner memiliki risiko lebih tinggi mengalami diabetes tipe 2. Hal ini diduga berkaitan dengan gangguan metabolisme, resistensi insulin, serta peningkatan risiko kelebihan berat badan. 

Oleh karena itu, pemantauan kadar gula darah secara berkala penting dilakukan.

2. Hipertensi

Tekanan darah tinggi cukup sering ditemukan pada sindrom Turner, bahkan dapat muncul sejak usia anak-anak. Hipertensi meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, dan gangguan ginjal sehingga perlu dikontrol secara rutin.

3. Kelainan jantung dan pembuluh darah

Kelainan bawaan pada jantung merupakan komplikasi yang cukup umum. Beberapa kondisi yang dapat terjadi antara lain kelainan katup jantung, koarktasio aorta (penyempitan pembuluh darah aorta), serta pelebaran atau diseksi aorta. 

Oleh karena itu, pemeriksaan jantung secara berkala dengan ekokardiografi atau MRI jantung sangat dianjurkan.

4. Gangguan fungsi ginjal dan saluran kemih

Sebagian penderita sindrom Turner memiliki kelainan bentuk ginjal, seperti ginjal tapal kuda atau posisi ginjal yang tidak normal. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko infeksi saluran kemih (ISK) maupun gangguan fungsi ginjal di kemudian hari.

5. Penyakit autoimun

Sindrom Turner juga dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit autoimun, seperti hipotiroidisme akibat tiroiditis Hashimoto, penyakit celiac (intoleransi gluten), serta penyakit radang usus. Pemeriksaan fungsi tiroid dan skrining penyakit tertentu biasanya dilakukan secara berkala.

6. Gangguan psikologis dan perilaku

Sebagian anak dengan sindrom Turner dapat mengalami gangguan perhatian dan hiperaktivitas (ADHD), kecemasan, atau kesulitan dalam interaksi sosial. Dukungan psikologis dan pendampingan pendidikan dapat membantu mengoptimalkan perkembangan anak.

7. Gangguan belajar

Penderita sindrom Turner umumnya memiliki kecerdasan normal. Namun, beberapa dapat mengalami kesulitan dalam kemampuan visuospasial, matematika, atau konsentrasi. Identifikasi dini dan intervensi pendidikan sangat membantu dalam mengatasi tantangan ini.

8. Masalah pertumbuhan dan kesehatan tulang

Pertumbuhan tinggi badan yang terhambat merupakan ciri khas sindrom Turner. Selain itu, risiko kelainan tulang belakang seperti skoliosis, serta osteoporosis akibat kekurangan hormon estrogen, juga lebih tinggi. 

Terapi hormon pertumbuhan dan terapi pengganti estrogen dapat membantu mendukung pertumbuhan dan menjaga kepadatan tulang.

9. Gangguan pendengaran

Infeksi telinga tengah (otitis media) yang berulang sering terjadi pada anak dengan sindrom Turner. Seiring bertambahnya usia, risiko gangguan pendengaran sensorineural juga meningkat sehingga pemeriksaan pendengaran berkala diperlukan.

10. Masalah penglihatan

Gangguan penglihatan, seperti strabismus (mata juling), rabun jauh atau rabun dekat, serta kelainan refraksi lainnya, juga lebih sering ditemukan pada sindrom Turner.

11. Gangguan fungsi ovarium dan infertilitas

Sebagian besar wanita dengan sindrom Turner mengalami kegagalan fungsi ovarium sejak dini (insufisiensi ovarium prematur). Kondisi ini menyebabkan pubertas tidak berkembang sempurna dan berisiko tinggi menimbulkan infertilitas. 

Namun, dengan kemajuan teknologi reproduksi, sebagian penderita masih memiliki peluang untuk hamil melalui program khusus, dengan pengawasan medis ketat.

Mengingat banyaknya komplikasi yang dapat muncul, penderita sindrom Turner memerlukan pemantauan kesehatan secara menyeluruh dan berkala oleh tim dokter multidisiplin. 

Pemeriksaan rutin membantu mendeteksi komplikasi sejak dini dan mencegah perburukan kondisi.