Kepala terbentur dan muntah merupakan kombinasi gejala yang tidak boleh Anda anggap remeh, terutama jika terjadi setelah kecelakaan atau benturan keras. Kondisi ini bisa menjadi pertanda adanya cedera otak atau gangguan serius lain yang perlu segera mendapatkan penanganan medis untuk mencegah komplikasi.
Banyak orang mungkin mengira kepala terbentur dan muntah hanyalah reaksi sementara akibat syok atau pusing. Padahal, kondisi ini bisa menjadi tanda adanya gangguan serius pada kepala dan otak, seperti perdarahan atau gegar otak.
Perlu diketahui, gejala kepala terbentur dan muntah biasanya tidak selalu muncul setelah kejadian. Pada sebagian kasus, keluhan justru dapat timbul beberapa jam hingga beberapa hari kemudian, seiring dengan meningkatnya tekanan di dalam kepala atau memburuknya kondisi cedera.
Oleh karena itu, penting mengetahui apa saja tanda bahaya kepala terbentur dan muntah, serta kapan harus segera mencari pertolongan ke dokter atau IGD.
Penyebab Kepala Terbentur dan Muntah
Umumnya, kepala terbentur dan muntah terjadi karena adanya cedera di kepala yang memengaruhi fungsi otak dan sistem saraf. Hal ini bisa dipicu oleh cedera kepala akibat jatuh, yaitu benturan yang terjadi saat seseorang terpeleset, jatuh dari ketinggian, mengalami kecelakaan lalu lintas, terjatuh dari motor, atau mengalami benturan keras ketika berolahraga.
Selain itu, kepala terbentur dan muntah juga bisa disebabkan oleh pukulan langsung ke kepala atau lemparan benda keras yang mengenai kepala.
Di samping itu, ada beberapa kondisi yang bisa menyebabkan kepala terbentur dan muntah, antara lain:
1. Gegar otak (concussion)
Gegar otak merupakan cedera otak ringan yang terjadi ketika kepala mengalami benturan keras atau gerakan tiba-tiba, misalnya saat jatuh atau kecelakaan. Benturan ini membuat otak berguncang di dalam tengkorak sehingga fungsi sel-sel otak terganggu sementara.
Gangguan fungsi otak tersebut dapat memengaruhi pusat keseimbangan dan pusat muntah di otak. Akibatnya, setelah kepala terbentur, penderita sering merasakan pusing, mual, hingga muntah.
2. Perdarahan otak
Perdarahan otak terjadi ketika pembuluh darah di dalam kepala pecah akibat benturan keras. Darah yang keluar kemudian menumpuk dan menekan jaringan otak di sekitarnya. Nah, tekanan ini menyebabkan peningkatan tekanan di dalam kepala yang dapat mengganggu kerja otak dan saraf.
Oleh karena itu, kepala terbentur dan muntah bisa menjadi tanda peringatan adanya perdarahan otak, terutama bila muntah terjadi berulang dan disertai sakit kepala hebat, atau penurunan kesadaran.
3. Pembengkakan otak atau edema serebral
Setelah kepala mengalami benturan, jaringan otak bisa mengalami peradangan yang menyebabkan pembengkakan otak atau edema serebral. Pembengkakan ini membuat volume otak bertambah, sementara ruang di dalam tengkorak sangat terbatas.
Akibatnya, tekanan di dalam kepala meningkat dan menekan pusat pengatur mual dan muntah di otak. Inilah alasan mengapa kepala terbentur dan muntah sering muncul pada kondisi pembengkakan otak. Jika tidak segera ditangani, tekanan yang terus meningkat dapat memperburuk kerusakan otak.
4. Retak atau patah tulang tengkorak
Retak atau patah tulang tengkorak terjadi ketika benturan pada kepala sangat kuat hingga merusak tulang pelindung otak. Kondisi ini tidak hanya melukai tulang, tetapi juga dapat mencederai jaringan otak dan pembuluh darah di bawahnya.
Cedera tersebut bisa memicu perdarahan, pembengkakan, serta gangguan fungsi otak. Kombinasi faktor inilah yang menyebabkan kepala terbentur dan muntah
5. Diffuse axonal injury
Diffuse axonal injury adalah cedera otak berat yang terjadi akibat gerakan kepala yang sangat cepat dan mendadak, misalnya pada kecelakaan lalu lintas berkecepatan tinggi.
Gerakan ini menyebabkan serabut saraf (akson) di otak tertarik dan rusak secara menyebar. Kerusakan akson ini membuat komunikasi antarbagian otak terganggu, termasuk area yang mengatur kesadaran dan refleks muntah.
Inilah sebabnya kepala terbentur dan muntah dapat muncul pada orang yang mengalami diffuse axonal injury. Selain itu, kondisi ini juga sering disertai penurunan kesadaran atau koma karena gangguan fungsi otak yang luas.
Ini Gejala Kepala Terbentur dan Muntah yang Perlu Diwaspadai
Setelah mengalami kepala terbentur dan muntah, ada beberapa gejala yang perlu Anda perhatikan karena bisa menandakan adanya cedera otak serius. Gejala-gejala ini tidak selalu muncul seketika, tetapi dapat berkembang dalam beberapa jam hingga hari setelah benturan. Berikut gejala yang perlu diwaspadai:
- Kehilangan kesadaran meski hanya sebentar setelah benturan
- Muntah berulang, terutama lebih dari satu kali atau muntah yang sangat kuat
- Sakit kepala hebat atau sakit kepala yang semakin memburuk dari waktu ke waktu
- Pusing, kepala terasa berputar, tidak stabil, atau seperti akan pingsan
- Mual terus-menerus
- Penurunan kesadaran, seperti mengantuk berlebihan, sulit dibangunkan, atau bicara kacau
- Kebingungan atau linglung
- Perubahan mood, seperti mudah marah atau gelisah
- Gangguan penglihatan
- Kejang
- Kelemahan atau kelumpuhan pada salah satu sisi tubuh
- Keluarnya cairan atau darah dari hidung atau telinga
- Memar atau bengkak di kepala, terutama di belakang telinga atau sekitar mata
Jika Anda atau orang terdekat menunjukkan salah satu atau beberapa gejala di atas setelah mengalami kepala terbentur dan muntah, segera pergi ke IGD terdekat ya. Soalnya, gejala di atas bisa menandakan adanya perdarahan otak, pembengkakan otak, retak tulang tengkorak, atau kerusakan saraf yang dapat mengancam jiwa jika terlambat ditangani.
Ini Pertolongan Pertama Kepala Terbentur dan Muntah
Jika Anda atau orang terdekat mengalami kepala terbentur dan muntah, segera lakukan langkah pertolongan pertama berikut untuk mencegah komplikasi serius sebagai berikut:
- Pastikan korban tetap sadar dan terjaga.
- Baringkan posisi korban dengan kepala sedikit lebih tinggi dari badan.
- Posisikan tubuh miring. Jika korban muntah, agar muntahan tidak masuk ke saluran napas dan mencegah tersedak.
- Longgarkan pakaian di area leher dan dada supaya pernapasan lebih lega.
- Jangan memberi makanan, minuman, atau obat apa pun sampai korban diperiksa dokter.
- Jangan menggerakkan kepala dan leher korban.
- Tempelkan kompres dingin selama 10–15 menit untuk membantu mengurangi nyeri dan pembengkakan, hindari menekan terlalu keras ya.
- Catat waktu benturan dan gejala yang muncul untuk dilaporkan ke tenaga medis saat pemeriksaan.
Penting untuk diingat, jangan menunda untuk pergi ke IGD jika ada tanda bahaya, seperti muntah berulang, penurunan kesadaran, kejang, atau perdarahan dari hidung dan telinga.
Pertolongan pertama kepala terbentur dan muntah sangatlah penting untuk mencegah kondisi bertambah parah. Meski benturan terlihat ringan, pemantauan tetap diperlukan ya, karena gejala bisa muncul beberapa waktu setelah kejadian.
Komplikasi Kepala Terbentur dan Muntah
Kepala terbentur dan muntah bukanlah keluhan yang bisa dianggap sepele, karena keduanya berpotensi menandakan cedera otak yang serius. Jika penanganan terlambat atau gejala bahaya diabaikan, ada beberapa risiko dan komplikasi yang dapat terjadi, di antaranya:
- Perdarahan otak
- Pembengkakan otak (edema serebral)
- Kerusakan saraf permanen, seperti kelumpuhan, gangguan bicara, gangguan memori, dan kebutaan
- Gegar otak berkepanjangan
- Infeksi otak atau selaput otak
- Sindrom pasca gegar otak
- Kematian
Perlu diketahui bahwa risiko komplikasi kepala terbentur dan muntah akan semakin tinggi terjadi pada anak-anak, lansia, serta orang dengan gangguan pembekuan darah atau yang menggunakan obat pengencer darah. Oleh karena itu, kondisi ini harus segera dievaluasi oleh dokter guna mencegah terjadinya akibat yang lebih berat.
Pencegahan Kepala Terbentur dan Muntah
Untungnya, kepala terbentur dan muntah bisa dicegah. Berikut adalah beberapa langkah pencegahan yang bisa dilakukan:
- Selalu gunakan helm atau sabuk pengaman saat berkendara
- Gunakan alat pelindung saat berolahraga
- Hindari aktivitas berisiko, seperti menyetir kendaraan, saat lelah atau mengantuk.
- Pastikan rumah aman untuk anak-anak dengan memasang pelindung di setiap sudut meja, membatasi akses ke tangga, dan menjaga lantai tetap kering agar tidak licin.
- Pantau anak-anak dan lansia saat beraktivitas, terutama di area yang rawan jatuh atau terbentur.
- Jaga pencahayaan di rumah dan lingkungan kerja agar tidak ada area gelap yang meningkatkan risiko tersandung atau terjatuh.
- Gunakan alas kaki yang tidak licin untuk mengurangi risiko terpeleset.
- Rutin berolahraga untuk membantu meningkatkan kekuatan otot dan keseimbangan sehingga mengurangi risiko jatuh.
Kepala terbentur dan muntah bukanlah kondisi yang boleh dianggap sepele ya. Meski terlihat ringan, benturan pada kepala dapat menimbulkan dampak serius bila tidak ditangani dengan tepat.
Apabila hal ini terjadi, segeralah ke dokter atau IGD rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang sesuai.
