Premenstrual dysphoric disorder (PMDD) adalah gangguan fisik dan emosi berat yang muncul menjelang menstruasi. Kondisi ini merupakan bentuk premenstrual syndrome (PMS) yang lebih parah dan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari serta hubungan sosial.
Premenstrual dysphoric disorder diperkirakan dialami oleh sekitar 3–5 persen wanita sebelum menstruasi. Gejala PMDD umumnya muncul 1–2 minggu sebelum haid dan mereda dalam 2–3 hari setelah menstruasi dimulai.

Walaupun sekilas mirip dengan PMS, premenstrual dysphoric disorder ditandai gejala yang jauh lebih berat dan mengganggu. Selain keluhan fisik seperti kram perut, nyeri payudara, dan kelelahan, penderita PMDD sering mengalami perubahan suasana hati yang berlebihan hingga sulit dikendalikan.
Penyebab Premenstrual Dysphoric Disorder
Penyebab premenstrual dysphoric disorder (PMDD) belum diketahui secara pasti. Namun, gangguan ini diduga terjadi akibat menurunnya kadar hormon estrogen dan progesteron sebelum masa menstruasi.
Di samping itu, perubahan kadar zat yang mengatur suasana hati (serotonin), juga dapat membuat wanita menjadi lebih sensitif sehingga memicu terjadinya PMDD.
Faktor risiko premenstrual dysphoric disorder
PMDD dapat dialami oleh setiap wanita. Akan tetapi, terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seorang wanita mengalami PMDD, yaitu:
- Memiliki keluarga dengan riwayat premenstrual dysphoric disorder (PMDD)
- Mengalami trauma pada emosi atau fisik
- Memiliki riwayat depresi atau gangguan mood lainnya
- Memiliki berat badan berlebih
- Mengonsumsi minuman beralkohol secara berlebihan
- Merokok
Gejala Premenstrual Dysphoric Disorder
Gejala PMDD umumnya terjadi sangat parah sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari penderitanya. Gejala tersebut meliputi:
- Perubahan suasana hati (mood) yang cepat, seperti menangis atau sedih secara tiba-tiba
- Mudah tersinggung dan marah
- Putus asa dan tertekan
- Cemas dan tegang yang berlebihan
- Kehilangan minat untuk melakukan aktivitas sehari-hari
- Sulit berkonsentrasi
- Mudah lelah
- Nafsu makan yang berlebihan atau binge eating
- Sakit kepala
- Insomnia
- Kram perut
- Nyeri dan bengkak pada payudara
- Nyeri sendi dan otot
- Kembung
- Berat badan bertambah
Kapan harus ke dokter
Lakukan pemeriksaan ke dokter jika Anda mengalami gejala yang telah disebutkan di atas, terutama jika keluhan tersebut mengganggu aktivitas sehari-hari dan tidak membaik dengan perawatan mandiri.
Membuat janji dengan dokter kini makin mudah. Melalui fitur Buat Janji di aplikasi ALODOKTER, Anda dapat melihat jadwal praktik, membaca ulasan pasien, dan langsung melakukan booking dalam beberapa klik.
Jika Anda membutuhkan saran medis awal sebelum ke fasilitas kesehatan, Anda dapat memanfaatkan layanan Chat Bersama Dokter. Dengan layanan ini, Anda bisa berkonsultasi langsung dengan dokter untuk mengetahui langkah penanganan yang tepat.
Segera ke dokter jika Anda mengalami gejala berikut:
- Serangan panik
- Amarah yang tidak terkendali
- Depresi berat
- Keinginan untuk melukai diri sendiri atau orang lain
- Keinginan untuk bunuh diri
Diagnosis Premenstrual Dysphoric Disorder
Untuk mendiagnosis PMDD, dokter akan melakukan tanya jawab terkait keluhan yang dialami pasien, sejak kapan gejala muncul, siklus menstruasi pasien, serta riwayat kesehatan pasien dan keluarga. Setelah itu, dokter akan menjalankan pemeriksaan fisik.
Dokter dapat menetapkan pasien menderita PMDD jika:
- Terdapat lima atau lebih gejala PMDD yang dialami pasien
- Gejala terjadi 7–10 hari sebelum masa menstruasi
- Keluhan mereda 2–3 hari setelah menstruasi dimulai
- Gejala diikuti dengan gangguan suasana hati yang parah
- Gejala bukan merupakan komplikasi dari gangguan mental lainnya, seperti depresi berat, gangguan cemas, atau gangguan kepribadian
Jika gejala yang dialami pasien tidak memenuhi kriteria di atas, dokter akan menyarankan pasien menjalani pemeriksaan lebih lanjut.
Pengobatan Premenstrual Dysphoric Disorder
Pengobatan PMDD bertujuan untuk meredakan gejala dan mencegah terjadinya komplikasi. Metode pengobatannya akan disesuaikan dengan keluhan yang dialami pasien.
Salah satu metode pengobatan PMDD adalah dengan mengonsumsi obat-obatan, seperti:
- Obat antidepresan, seperti fluoxetine atau sertraline, untuk meredakan gejala terkait emosi atau perubahan suasana hati
- Pil KB, untuk menghentikan proses ovulasi agar kadar hormon tidak naik-turun sehingga gejala PMDD dapat mereda
- Obat pereda nyeri, seperti ibuprofen dan naproxen, untuk meredakan keluhan fisik, seperti kram perut, nyeri otot, dan pembengkakan payudara
- Suplemen, seperti kalsium, vitamin B6, serta magnesium, untuk membantu meredakan gejala PMDD
Selain dengan obat-obatan, gejala PMDD juga dapat diatasi dengan mengubah pola hidup menjadi lebih sehat, seperti:
- Berolahraga secara rutin
- Tidak merokok
- Mengurangi konsumsi minuman beralkohol dan berkafein
- Membiasakan diri untuk tidur yang cukup
- Melakukan relaksasi, seperti yoga atau meditasi
- Mengendalikan stres dengan baik
- Berbagi cerita dan dukungan dengan teman wanita lain
Komplikasi Premenstrual Dysphoric Disorder
Jika tidak ditangani, premenstrual dysphoric disorder (PMDD) dapat menimbulkan komplikasi berupa depresi berat. Akibatnya, penderitanya dapat memiliki keinginan untuk bunuh diri.
PMDD juga dapat menyebabkan penderitanya merasa sangat tertekan. Kondisi ini bisa menimbulkan dampak negatif pada pekerjaan dan kehidupan sosial penderita.
Pencegahan Premenstrual Dysphoric Disorder
Premenstrual dysphoric disorder (PMDD) sulit dicegah karena penyebabnya belum diketahui secara pasti. Namun, wanita yang memiliki riwayat depresi atau gangguan kecemasan dianjurkan untuk mengobati kondisi tersebut sehingga risiko terjadinya PMDD dapat menurun.
Seperti pada PMS, ada beberapa cara untuk mengurangi keparahan gejala PMDD, yaitu:
- Mengonsumsi makanan bergizi lengkap dan seimbang
- Meningkatkan asupan buah-buahan, sayuran, dan karbohidrat kompleks
- Mengurangi asupan makanan cepat saji, serta makanan tinggi gula atau tinggi garam
- Mengurangi konsumsi minuman berkafein
- Beristirahat dan tidur yang cukup
- Mengelola stres dan melakukan teknik relaksasi
- Berolahraga rutin, terutama olahraga peregangan seperti yoga