Stroke hemoragik adalah kondisi pecahnya salah satu arteri dalam otak yang memicu perdarahan di sekitar organ tersebut sehingga aliran darah pada sebagian otak berkurang atau terputus. Tanpa pasokan oksigen yang dibawa sel darah, sel otak dapat cepat mati sehingga fungsi otak dapat terganggu secara permanen.

Perdarahan saat pecahnya pembuluh darah dalam otak disebut dengan perdarahan intraserebral, sedangkan perdarahan pada pembuluh darah pada ruang di antara lapisan pembungkus otak bagian tengah dan dalam disebut dengan perdarahan subarachnoid.

autistic intellectual disability care concept

Gejala Stroke Hemoragik

Gejala yang muncul karena serangan stroke hemoragik dapat berbeda-beda, tergantung seberapa besar jaringan yang terganggu, lokasi, serta tingkat keparahan perdarahan yang terjadi.

Gejala stroke hemoragik intraserebral (perdarahan otak), di antaranya adalah:

Gejala lainnya yang dapat terjadi adalah lemah, kelumpuhan pada satu sisi tubuh, gangguan berbicara, mata tidak dapat digerakkan menuju arah tertentu, gangguan penglihatan, dan terlihat bingung.

Sementara itu, stroke hemoragik subarachnoid (perdarahan subarachnoid) ditunjukkan dengan gejala awal berupa penglihatan ganda dan sakit kepala yang terjadi tiba-tiba. Gejala tersebut terjadi sebelum pembuluh darah pecah. Setelah pecahnya pembuluh darah, beberapa gejala yang dapat muncul antara lain:

  • Nyeri di daerah wajah atau sekitar mata.
  • Penglihatan kabur.
  • Leher kaku.
  • Penurunan kesadaran.

Gejala pada perdarahan subarachnoid dapat memburuk dalam waktu 24 jam, di mana cairan serebrospinal mengiritasi selaput pelindung otak (meningens) sehingga mengakibatkan gejala kaku leher, nyeri punggung, pusing, serta dapat diikuti dengan muntah. Gejala perdarahan berat hingga penurunan kesadaran dapat terjadi secara mendadak, sehingga penderita harus segera dilarikan ke rumah sakit. Tidak jarang penderita menjadi koma atau bahkan meninggal sebelum sampai di rumah sakit.

Penyebab Stroke Hemoragik

Penyebab stroke hemoragik adalah pecahnya pembuluh darah di dalam otak. Beberapa faktor yang dapat menjadi pemicunya, antara lain adalah:

  • Tekanan darah tinggi (hipertensi).
  • Cedera kepala berat.
  • Ketidaknormalan pembuluh darah di otak sejak lahir (cacat bawaan berupa malformasi pembuluh darah arteri dan vena).
  • Aneurisma otak.
  • Penyakit liver.
  • Kelainan darah, contohnya penyakit anemia sel sabit dan hemofilia.
  • Tumor otak.
  • Efek samping penggunaan obat antikoagulan atau pengencer darah, seperti warfarin.

Diagnosis Stroke Hemoragik

Seorang pasien dapat didiagnosis mengalami stroke hemoragik berdasarkan gejala, yang ditunjang dengan pemeriksaan. Pemeriksaan penunjang yang dilakukan adalah:

  • CT scan atau MRI untuk mengetahui seberapa besar kerusakan jaringan pada otak, serta angiografi otak untuk mengetahui perkembangan perdarahan yang terjadi.
  • Pemeriksaan cairan serebrospinal dengan mengambil cairan dari area otak dan tulang belakang. Pemeriksaan ini hanya dilakukan jika hasil CT scan atau MRI masih tidak memadai.

Pengobatan Stroke Hemoragik

Pengobatan stroke hemoragik dilakukan berdasarkan penyebab, tingkat keparahan, serta lokasi di mana perdarahan tersebut terjadi. Penderita stroke hemoragik akan dirawat di unit rawat intensif agar dapat dipantau kondisinya secara ketat.

Penanganan stroke hemoragik bertujuan untuk mengendalikan perdarahan dan mencegah terjadinya komplikasi.

Penanganan dilakukan dengan pemberian obat. Dalam kasus stroke hemoragik, pasien yang rutin mengonsumsi obat pengencer darah, akan dihentikan sementara, karena akan memperparah perdarahan. Bahkan bila perlu, diberikan obat untuk membantu pembekuan darah. Di antaranya adalah pemberian vitamin K, transfusi darah trombosit, atau faktor pembekuan.

Obat pereda nyeri juga bisa diberikan pada pasien guna meredakan sakit kepala. Namun, obat antiinflamasi nonsteroid tidak dianjurkan untuk pasien stroke hemoragik karena hanya akan memperburuk perdarahan. Selain itu, obat pencahar juga dapat diberikan guna mencegah pasien mengejan terlalu keras saat BAB, yang dapat meningkatkan tekanan pada pembuluh darah di rangka kepala.

Untuk mencegah perkembangan perdarahan yang lebih parah, dokter dapat memberi obat seperti antagonis kalsium. Pengobatan ini bertujuan untuk menjaga tekanan darah tetap rendah agar tidak terjadi perdarahan kembali. Jika pasien mengalami kejang, maka obat antikonvulsan akan diberikan.

Pada penderita perdarahan subarachnoid, dapat dilakukan pemasangan selang dalam otak untuk mengeluarkan cairan serebrospinal. Tindakan ini bertujuan untuk mengurangi tekanan pada otak dan mencegah hidrosefalus.

Untuk kasus stroke hemoragik yang sangat parah, dibutuhkan tindakan operasi guna memperbaiki pembuluh darah dan menghentikan perdarahan, terutama jika stroke terjadi karena malformasi (kelainan) arteri-vena. Namun demikian, tindakan ini perlu diperhitungkan baik-baik karena operasi sendiri dapat menyebabkan kerusakan otak lebih lanjut.

Setelah menjalani pengobatan, pemulihan pasien tergantung dari tingkat keparahan stroke dan kerusakan jaringan otak yang terjadi. Bagi penderita stroke hemoragik yang tidak mengalami komplikasi, dapat pulih dalam waktu beberapa minggu setelah pulang dari rumah sakit. Tapi bagi pasien stroke hemoragik di mana telah terjadi kerusakan jaringan, dibutuhkan terapi tambahan, seperti terapi fisik, kegiatan, atau terapi bicara. Terapi-terapi tersebut dimaksudkan untuk mengembalikan fungsi jaringan yang rusak sehingga dapat bekerja secara normal kembali.

Komplikasi Stroke Hemoragik

Komplikasi yang dapat ditimbulkan pada penderta stroke hemoragik adalah:

  • Kejang.
  • Gangguan dalam berpikir dan mengingat.
  • Masalah pada jantung.
  • Kesulitan dalam menelan, makan, atau minum.

Pencegahan Stroke Hemoragik

Risiko terkena stroke hemoragik bisa dicegah dengan cara menghindari faktor-faktor yang dapat memicunya. Misalnya apabila Anda memiliki penyakit darah tinggi atau hipertensi, maka tangani dengan menggunakan obat-obatan yang diresepkan oleh dokter dan menjalani gaya hidup sehat yang dianjurkan. Misalnya, mengonsumsi makanan sehat dan rutin berolahraga. Lakukan pemeriksaan secara berkala untuk memastikan tekanan darah tetap normal.

Selain itu, karena stroke hemoragik juga bisa disebabkan oleh cedera di kepala, maka berhati-hatilah saat melakukan berbagai aktivitas, baik di dalam maupun di luar rumah. Misalnya ketika Anda mengendarai sepeda motor, selalu gunakan helm dengan standar yang dianjurkan (SNI) dan selalu taati peraturan berlalu lintas. Begitu pula jika Anda mengendarai mobil, selalu gunakan sabuk pengaman dan berhati-hati dalam berkendara.

Terkait dengan risiko stroke hemoragik bagi pengguna obat warfarin, selalu taati aturan dan dosis yang telah ditetapkan oleh dokter.