Thalidomide

Pengertian Thalidomide

Thalidomide adalah obat yang dapat memengaruhi sistem pertahanan tubuh (immunodulator). Obat ini bekerja pada sistem imun untuk menurunkan kadar zat yang dapat menyebabkan peradangan kulit pada penderita erythema nodosum leprosum (ENL) atau reaksi kusta tipe 2 dengan tingkat keparahan menengah dan berat.

Jika diberikan bersamaan dengan obat dexamethasone, pada kanker darah multiple myeloma, obat ini dapat meningkatkan senyawa tertentu dalam tubuh yang dapat membunuh sel-sel kanker.

Thalidomide harus digunakan di bawah pengawasan dokter. Penggunaan obat ini untuk anak di bawah usia 12 tahun belum diketahui tingkat keamanannya, oleh karena itu harus dipantau dengan sangat hati-hati.

Merek dagang: Thalomid

thalidomide

Tentang Thalidomide

Golongan  Immunodulator (peningkat sistem pertahanan tubuh)
Kategori  Obat resep
Manfaat  Mengatasi peradangan kulit pada penderita kusta tipe 2  dan  berfungsi sebagai antineoplastik pada kasus kanker  darah  multiple myeloma
Dikonsumsi oleh  Dewasa
Bentuk obat  Kapsul
Kategori kehamilan dan  Kategori X: Obat-obatan yang berisiko tinggi  menyebabkan  cacat permanen pada janin dan tidak boleh  digunakan pada saat  hamil dan menyusui

Peringatan:

  • Beri tahu dokter terlebih dahulu jika memilki alergi terhadap obat atau bahan tertentu.
  • Konsultasikan pada dokter untuk pemberian obat ini pada anak berusia di bawah 12 tahun atau balita yang mendapat air susu dari ibunya karena belum ada studi yang menjamin keamanannya.
  • Harap berhati-hati bagi yang memiliki riwayat kejang atau epilepsi, detak jantung lambat, menstruasi tidak teratur, pembekuan darah, serta gejala kesemutan atau mati rasa pada tangan atau kaki.
  • Beri tahu dokter jika sedang menjalani kemoterapi atau hendak menjalani operasi.
  • Informasikan pada dokter jika mengonsumsi obat-obatan lain, termasuk suplemen dan obat herbal.
  • Segera konsultasikan pada dokter jika terdapat efek atau gejala yang mengkhawatirkan selama pemakaian obat.
  • Hindari mengonsumsi alkohol selama menjalani pengobatan dengan thalidomide.
  • Jika terjadi reaksi alergi atau overdosis segera temui dokter.

Dosis Thalidomide

Kondisi  Dosis
Untuk reaksi kusta tipe 2 (erythema  nodosum leprosum) Dosis awal: 100-300 mg satu kali dalam  sehari saat akan tidur.

 

Dosis awal untuk pasien dengan berat  badan di bawah 50 kg: 100 mg setiap  hari.

 

Dosis dapat dikurangi 50 mg setiap 2-4  minggu.

 

Dosis maksimal: 400 mg setiap hari .

Untuk kanker darah  multiple myeloma Dosis awal: 200 mg satu kali dalam  sehari.

 

Dosis dapat ditingkatkan setiap minggu  dengan interval waktu sesuai toleransi  pasien.

 

Dosis maksimal: 800 mg setiap hari.

Mengonsumsi Thalidomide dengan Benar

Sebelum mengonsumsi thalidomide, penderita wanita perlu melakukan tes kehamilan untuk memastikan dirinya tidak dalam keadaan hamil. Untuk wanita yang sudah berkeluarga, gunakan dua macam kontrasepsi guna mencegah kehamilan selama 4 minggu sebelum mengonsumsi obat ini. Kontrasepsi tersebut perlu dilanjutkan selama pemakaian obat hingga 4 minggu pasca dosis terakhir. Selain itu, pemeriksaan kehamilan juga perlu dilakukan selama bulan pertama setelah mengonsumsi obat ini, dan perlu diulang setiap 2 hingga 4 minggu selama terapi dengan obat ini dilakukan.

Pencegahan kehamilan juga perlu dilakukan pasangan pria dari penderita wanita yang mengonsumsi obat ini. Mereka perlu memakai kondom setiap kali akan berhubungan seksual dengan penderita hingga 4 minggu setelah mengomsumsi dosis terakhir.

Konsumsilah obat ini sesuai anjuran dokter. Thalidomide harus dikonsumsi dalam keadaan perut kosong atau  setidaknya satu jam setelah makan dengan segelas air. Jangan mengonsumsi lebih sering atau lebih lama dari anjuran dokter. Jika waktu konsumsi obat ini terlewatkan, gantikan dosis yang terlupa secepatnya. Namun jika dosis yang terlupakan sudah mendekati waktu konsumsi berikutinya, maka lewatkan dosis yang tertinggal dan kembali ke aturan dosis yang dijadwalkan.

Selama mengonsumsi obat ini, pasien dilarang menyumbang darah atau sperma hingga 4 minggu setelah dosis yang terakhir. Selain itu, jangan berbagi obat ini dengan orang lain, meski memiliki gejala yang sama.

Thalidomide dapat menyebabkan pusing atau mengantuk. Oleh karena itu, hindari mengemudikan kendaraan, mengoperasikan mesin, atau melakukan kegiatan yang memerlukan kewaspadaan selama mengonsumsi obat ini. Selain itu, thalidomide juga dapat meningkatkan efek alkohol jika digunakan bersamaan minuman yang mengandung zat tersebut.

Interaksi Thalidomide dengan Obat Lainnya

Harap berhati-hati jika mengonsumsi thalidomide dengan:

  • Darbepoetin-alfa dan doxorubicin, karena dapat meningkatkan risiko terjadinya thromboembolic events atau trombosis.
  • Antihistamin, obat pereda sakit opioid, atau sodium oxybate (GHB), karena dapat meningkatkan efek kantuk.
  • Amiodarone, bortezomib, cisplatin, disulfiram, docetaxel, metronidazole, paclitaxel, phenytoin, vincristine, atau obat lain yang berisiko meningkatkan kerusakan saraf.
  • Obat penghambat alfa, penghambat kanal kalsium, digoxin, penghambat H2, lithium, atau antidepresan trisiklik, karena berisiko memperlambat denyut jantung.
  • Obat erithropoietin atau obat yang mengandung estrogen, karena dapat meningkatkan risiko penyumbatan darah.

Kenali Efek Samping Thalidomide

Beberapa efek samping yang mungkin timbul setelah mengonsumsi thalidomide adalah:

  • Pusing atau pening.
  • Denyut jantung cepat.
  • Kelemahan otot.
  • Lengan dan tungkai kaki menjadi merah, bengkak dan nyeri.
  • Nyeri dada.
  • Kaki dan tangan menjadi kaku, kesemutan, atau terasa terbakar.
  • Batuk.
  • Nyeri perut.
  • Diare.
  • Sembelit.
  • Mual.
  • Pusing.
  • Mengantuk.
  • Mulut kering.
  • Kulit kering.

Biasanya efek samping yang muncul akan mereda seiring tubuh menyesuaikan diri dengan obat. Meskipun begitu, penanganan secara medis diperlukan apabila efek samping tersebut berkelanjutan atau semakin parah.

Di sisi lain, thalidomide juga berpotensi menyebabkan kerusakan saraf, reaksi buruk pada kulit (luka lepuh, lesi merah, jerawat besar), serta tumor lysis syndrome (TLS) pada beberapa jenis kanker tertentu. Selain itu, risiko mengalami penyumbatan darah yang memicu serangan jantung atau stroke juga dapat meningkat selama mengonsumsi obat ini.