Amenorrhea adalah kondisi terjadinya menstruasi atau tidak haid. Kondisi ini bisa dibagi menjadi 2 jenis, yaitu amenorrhea primer dan sekunder. Amenorrhea perlu mendapat penanganan karena bisa menjadi tanda dari penyakit yang serius. Salah satunya tumor pada kelenjar pituitari.

Perlu diketahui, bahwa normalnya sebelum memasuki masa pubertas, saat hamil, menyusui, atau ketika memasuki fase menopause, wanita tidak akan mengalami menstruasi.

Amenorrhea - alodokter_compress

Di luar kondisi dan fase tersebut, jika seorang wanita tidak kunjung mengalami menstruasi pertama atau tidak mengalami menstruasi kembali, diperlukan pemeriksaan menyeluruh untuk memastikan penyebab dan faktor pemicunya.

Penyebab Amenorrhea

Amenorrhea bisa disebabkan oleh beragam kondisi, mulai dari gangguan pada organ reproduksi, tumor pada kelenjar ptiuitari, hingga gangguan hormonal. Jika diuraikan lebih lanjut, berikut adalah beberapa kondisi atau penyakit yang bisa menyebabkan amenorrhea:

Gangguan pada organ reproduksi

Beberapa gangguan pada organ reproduksi yang bisa menyebabkan tidak terjadinya menstruasi adalah:

  • Tidak terbentuknya rahim, leher rahim (serviks), atau vagina
  • Adanya jaringan parut pada rahim akibat sindrom Asherman, komplikasi kuretase, atau komplikasi operasi caesar
  • Adanya obstruksi atau sumbatan di saluran reproduksi

Gangguan hormonal

Penyakit dan kondisi yang bisa menyebabkan terjadinya gangguan hormonal dan mencetuskan amenorrhea antara lain:

  • Gangguan tiroid, termasuk hipertiroid atau hipotiroid
  • Tumor kelenjar ptiutari
  • Tumor ovarium
  • Kelebihan hormon prolaktin
  • PCOS (polycystic ovary syndrome)
  • Olahraga dan aktivitas yang berlebihan
  • Stres yang berkelanjutan dan tidak dikelola dengan baik
  • Penggunaan obat atau preparat hormon, termasuk suntik KB
  • Berat badan yang terlalu rendah, termasuk akibat gangguan makan, seperti anorexia atau bulimia
  • Insufisiensi ovarium primer, yaitu indung telur yang berhenti bekerja sebelum usia 40 tahun
  • Histerektomi total, sehingga seluruh bagian rahim termasuk ovarium ikut diangkat

Selain penyebab yang telah disebutkan di atas, risiko terjadinya amenorrhea juga meningkat pada wanita yang memiliki riwayat keluarga dengan kondisi yang sama atau sedang menjalani pelatihan olahraga yang keras.

Gejala Amenorrhea

Menstruasi atau haid merupakan proses peluruhan dinding rahim akibat tidak dibuahinya sel telur. Kondisi ini umumnya terjadi setiap 21–35 hari sekali dan ditandai dengan keluarnya darah dari vagina yang berlangsung selama 2–7 hari.

Normalnya, menstruasi akan mulai terjadi pada rentang usia 11–14 tahun dan berhenti saat memasuki masa menopause. Saat mengalami amenorrhea, maka tidak terjadi haid atau menstruasi. Amenorrhea bisa dibagi menjadi 2 jenis, yaitu:

  • Amenorrhea primer, yaitu kondisi yang terjadi pada wanita berusia 14–16 tahun yang tidak kunjung mengalami menstruasi walaupun sudah menunjukkan tanda-tanda pubertas
  • Amenorrhea sekunder, yaitu kondisi yang terjadi pada wanita usia subur yang sudah pernah haid sebelumnya dan tidak sedang hamil, tetapi tidak mengalami menstruasi selama 3 siklus berturut-turut atau lebih

Selain tidak mengalami haid, amenorrhea juga dapat disertai dengan beberapa gejala lain tergantung dari penyebab yang mendasari terjadinya amenorrhea.

Jika disebabkan oleh gangguan hormonal, bisa muncul keluhan tambahan, seperti tumbuhnya rambut yang berlebihan, perubahan suara menjadi lebih berat, timbulnya jerawat, keluarnya ASI padahal tidak sedang menyusui, atau rambut rontok.

Kapan harus ke dokter

Lakukan pemeriksaan ke dokter jika Anda tidak haid selama 3 siklus berturut-turut atau tidak kunjung mengalami haid pertama di usia lebih dari 15 tahun, terlebih jika muncul keluhan lain, seperti yang telah disebutkan di atas.

Jika Anda sudah didiagnosis mengalami amenorrhea, lakukan kontrol ke dokter secara rutin. Selain untuk memantau hasil pengobatan, pemeriksaan rutin ini juga bertujuan untuk menurunkan risiko terjadinya komplikasi.

Diagnosis Amenorrhea

Untuk mendiagnosis amenorrhea, dokter akan melakukan tanya jawab seputar keluhan, ada tidaknya perubahan pola makan atau olahraga, penggunaan obat-obatan tertentu sebelumnya, dan riwayat kesehatan Anda dan keluarga.

Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksaan menyeluruh, termasuk pemeriksaan pada area panggul dan organ reproduksi.

Untuk memastikan diagnosis, dokter akan melakukan pemeriksaan penunjang berupa:

  • Tes kehamilan, untuk memastikan apakah amenorrhea disebabkan oleh kehamilan atau tidak, terutama untuk wanita usia subur yang aktif secara seksual
  • Tes darah yang meliputi pemeriksaan hormon prolaktin, tiroid, estrogen, FSH (follicle-stimulating hormone), DHEA-S (dehydroepiandrosterone sulfate), atau testosterone, untuk memastikan ada tidaknya gangguan hormonal yang bisa menyebabkan terjadinya amenorrhea
  • Tes pemindaian dengan USG, CT scan, atau MRI, untuk melihat ada tidaknya kelainan pada organ reproduksi dan tumor pada kelenjar hipofisis (pituitary)

Pengobatan Amenorrhea

Pengobatan untuk amenorrhea akan ditentukan berdasarkan penyebab yang mendasarinya. Beberapa pilihan pengobatan yang dapat diberikan untuk menangani amenorrhea adalah:

1. Pemberian obat dan terapi hormonal

Obat dan terapi hormonal diberikan untuk memicu siklus haid dan mengobati gangguan hormon. Beberapa jenis obat yang bisa diberikan untuk memicu siklus haid adalah pil KB, preparat atau obat yang mengandung progestogen, analog GnRH-a (gonadotropin releasing hormone analogue), atau bromocriptine.

Sedangkan, terapi penggantian hormon untuk mengatasi amenorrhea akan disesuaikan dengan penyebab yang mendasarinya. Beberapa jenis terapi hormon yang bisa diberikan adalah:

  • Terapi pengganti hormon estrogen (ERT), untuk amenorrhea yang disebabkan oleh insufisiensi ovarium primer, terapi ini akan diimbangi dengan pemberian progestin atau hormon progesterone untu mengurangi risiko terjadinya kanker rahim
  • Terapi pengurangan hormon androgen, untuk amenorrhea yang disebabkan oleh sindrom ovarium polikistik (PCOS)

2. Perubahan gaya hidup

Jika amenorrhea dipicu oleh gaya hidup yang tidak sehat, dokter akan menyarankan untuk menerapkan pola hidup sehat dengan melakukan beberapa hal berikut ini:

3. Operasi

Meski jarang dilakukan, jika amenorrhea disebabkan oleh tumor atau adanya jaringan parut, dapat dilakukan operasi pengangkatan tumor atau jaringan parut.

Komplikasi Amenorrhea

Komplikasi amenorrhea tergantung dari penyebab yang mendasarinya. Jika amenorrhea terjadi akibat tidak adanya ovulasi, bisa saja terjadi kemandulan (infertilitas). Jika disebabkan oleh gangguan hormonal, misalnya kurangnya kadar estrogen, risiko terjadinya osteoporosis juga bisa meningkat.

Pencegahan Amenorrhea

Amenorrhea tidak selalu dapat dicegah, terutama jika disebabkan oleh gangguan pada organ reproduksi, seperti tidak terbentuknya rahim, leher rahim, atau vagina.

Jika anak Anda tidak kunjung mengalami menstruasi di usia 15 tahun padahal sudah muncul tanda pubertas, lakukan pemeriksaan ke dokter, sehingga penyebabnya bisa segera diketahui.

Selain itu, jika amenorrhea berkaitan dengan gaya hidup, Anda dapat menurunkan risikonya dengan melakukan beberapa cara berikut:

  • Menjaga berat badan ideal dengan mengonsumsi makanan yang sehat dan bergizi seimbang
  • Mengelola stres dengan cara yang benar
  • Berolahraga dengan rutin
  • Beristirahat yang cukup
  • Selalu berkonsultasi dengan dokter sebelum menggunakan obat atau suplemen apa pun