Bronkiektasis adalah kerusakan dan pelebaran permanen pada bronkus dan saluran pernapasan. Kondisi ini menyebabkan penumpukan lendir di dalam paru-paru. Gejala yang paling sering muncul adalah batuk berdahak terus-menerus dan sesak napas.

Sistem pernapasan memiliki mekanisme perlindungan untuk menangkap bakteri dari udara yang kita hirup dengan memproduksi mukus atau lendir. Normalnya, mukus ini akan dialirkan keluar dari saluran pernapasan dan paru-paru. Namun, pada penderita bronkiektasis, kerusakan yang terjadi menyebabkan fungsi tersebut tidak berjalan baik sehingga lendir menumpuk di dalam paru-paru.

Bronkiektasis - Alodokter

Gejala Bronkiektasis

Gejala bronkiektasis sering kali baru muncul berbulan-bulan atau bertahun-tahun setelah penderita mengalami infeksi saluran pernapasan yang kambuhan. Gejala yang paling sering muncul adalah:

  • Batuk disertai dahak berwarna bening, kuning pucat, atau kuning kehijauan, yang terjadi setiap hari.
  • Batuk berdarah.
  • Infeksi saluran pernapasan yang kambuhan.
  • Sesak napas.
  • Mengi atau bengek.
  • Nyeri dada.
  • Berat badan turun.
  • Perubahan bentuk pada ujung kuku jari (clubbing fingers).

Kapan harus ke dokter

Periksakan ke dokter bila Anda mengalami batuk berdahak yang terus-menerus dan disertai gejala yang telah disebutkan di atas. Anda juga dianjurkan untuk segera ke dokter bila keluhan semakin memburuk dan menunjukkan gejala berupa:

  • Batuk berdahak makin parah, disertai dahak kehijauan dan bau tidak sedap.
  • Nyeri dada parah yang menyebabkan sakit saat batuk dan sulit bernapas.
  • Tubuh terasa sangat lelah.
  • Kulit dan bibir kebiruan.
  • Napas terlalu cepat
  • Demam

Penyebab Bronkiektasis

Bronkiektasis disebabkan oleh kerusakan dinding bronkus dan saluran pernapasan. Terkadang, tidak diketahui apa yang menyebabkan kerusakan ini. Namun, pada sebagian besar kasus, kerusakan bronkus dipicu oleh sejumlah kondisi berikut:

  • Pneumonia atau paru-paru basah.
  • TBC (tuberkulosis).
  • Batuk rejan.
  • Cystic fibrosis.
  • Allergic bronchopulmonary aspergillosis.
  • Primary ciliary dyskinesia (kelainan pada silia yaitu rambut-rambut halus di saluran pernapasan).
  • Kekebalan tubuh lemah, misalnya akibat HIV
  • Aspirasi.
  • Penyakit paru obstruktif kronis.
  • Penyakit autoimun
  • Gangguan perkembangan paru-paru sejak di dalam kandungan
  • Gangguan jaringan ikat, seperti Crohn’s disease, sindrom Sjögren, rheumatoid arthritis.
  • Penyumbatan saluran pernapasan, misalnya akibat tumor.
  • Campak.

Diagnosis Bronkiektasis

Pada awal pemeriksaan, dokter akan menanyakan gejala yang dialami oleh pasien, misalnya seberapa sering batuk dan apakah batuk disertai dahak. Dokter juga akan menanyakan obat yang sedang dikonsumsi dan apakah ada penyakit lain yang sedang atau pernah diderita.

Selanjutnya, dokter akan mendengarkan suara di paru-paru pasien menggunakan stetoskop. Suara napas yang dihasilkan oleh saluran pernapasan penderita bronkiektasis biasanya tidak normal.

Guna mengetahui penyebab bronkiektasis dan menyingkirkan kemungkinan gejala disebabkan oleh penyakit lain, dokter akan melakukan pemeriksaan penunjang yang meliputi:

  • Pemeriksaan darah, untuk mendeteksi kemungkinan infeksi.
  • Pemeriksaan dahak, untuk mengetahui ada tidaknya bakteri atau jamur dalam dahak.
  • Pemeriksaan fungsi paru-paru, menggunakan spirometri.
  • Pemeriksaan skrining autoimun, untuk memastikan apakah bronkiektasis disebabkan oleh penyakit autoimun.
  • Pemeriksaan sampel keringat, untuk mengetahui kemungkinanan bronkiektasis disebabkan oleh cystic fibrosis.
  • Rontgen atau CT scan pada paru-paru, untuk melihat kondisi paru-paru dan saluran pernapasan.
  • Bronkoskopi, untuk melihat apakah terdapat sumbatan atau perdarahan pada saluran pernapasan.

Pengobatan Bronkiektasis

Pengobatan bronkiektasis bertujuan untuk meredakan gejala, mengatasi penyebab yang mendasarinya, dan mencegah komplikasi. Makin cepat pengobatan diberikan, makin besar peluang pasien terhindar dari kerusakan paru lebih lanjut.

Jenis pengobatan yang dilakukan untuk mengatasi bronkiektasis meliputi pemberian obat-obatan, terapi, dan operasi, seperti dijelaskan di bawah ini:

Obat-obatan

Dokter akan meresepkan sejumlah obat untuk mengatasi infeksi dan mengurangi keluhan, seperti:

  • Antibiotik, bisa dalam bentuk minum atau suntik.
  • Bronkodilator. Contoh obat ini adalah agonis beta 2-adrenergik, antikolinergik dan teofilin.
  • Ekspektoran (pengencer dahak), yang dapat digunakan sebagai obat tunggal atau dikombinasikan dengan dekongestan.

Terapi

Sejumlah terapi yang dapat dijalani pasien untuk meredakan gejala bronkiektasis adalah:

  • Terapi tepuk dada atau chest clapping.
  • Terapi pernapasan yang disebut active cycle of breathing technique (ACBT).
  • Pemakaian rompi khusus.
  • Penggunaan alat bantu napas (positive expiratory pressure).

Selain sejumlah metode di atas, penderita bronkiektasis dianjurkan untuk melakukan sejumlah langkah berikut ini untuk membantu meredakan gejala:

  • Berhenti merokok.
  • Rutin berolahraga.
  • Minum banyak air agar tubuh tetap terhidrasi.
  • Mengonsumsi makanan bergizi seimbang.
  • Mendapatkan vaksin flu setiap tahun.
  • Mendapatkan vaksin pneumococcal untuk mencegah pneumonia.

Operasi

Dokter akan menyarankan tindakan operasi bila bronkiektasis hanya menyerang satu lobus (bagian) paru-paru, atau jika pasien tidak juga membaik setelah diberikan obat-obatan atau terapi. Operasi dilakukan dengan cara membuang lobus yang terkena bronkiektasis.

Perlu diketahui, metode pengobatan di atas hanya mencegah bronkiektasis bertambah buruk. Hal ini karena kerusakan paru-paru akibat bronkiektasis bersifat permanen dan sulit untuk disembuhkan.

Komplikasi Bronkiektasis

Bronkiektasis parah dapat berkembang menjadi kondisi yang lebih serius dan perlu diberikan tindakan darurat. Kondisi serius tersebut meliputi:

  • Batuk darah (hemoptisis) dalam jumlah banyak.
  • Atelektasis, yaitu kondisi di mana sebagian paru-paru mengempis dan tidak berfungsi.
  • Abses paru.
  • Gagal napas.
  • Gagal jantung.

Pencegahan Bronkiektasis

Bronkiektasis yang disebabkan oleh kelainan lahir tidak bisa dicegah. Akan tetapi, bronkiektasis yang terjadi akibat infeksi saluran pernapasan dapat dicegah dengan menghindari faktor pemicunya, yaitu dengan melakukan langkah-langkah berikut:

  • Menghindari polusi udara, termasuk asap pabrik dan asap kendaraan.
  • Menghentikan kebiasaan merokok dan menghindari asap rokok.
  • Menjalani vaksinasi untuk mencegah batuk rejan, TBC, dan campak.
  • Menjaga agar anak tidak menghirup benda yang dapat menyumbat saluran pernapasan.

Menjalani pengobatan dan pemeriksaan secara berkala jika bronkiektasis terdiagnosis sejak dini, sehingga penyakit ini tidak menjadi lebih parah.