Langkah pertama untuk mengobati insomnia adalah mencari tahu dan mengatasi akar penyebabnya. Bila pasien tetap mengalami insomnia meski penyebabnya telah diatasi, dokter akan menyarankan pasien menjalani terapi perilaku kognitif untuk insomnia (CBT-I). Pasien juga bisa diterapi dengan obat-obatan, atau kombinasi antara obat dan CBT-I.

CBT-I bertujuan membantu pasien insomnia mengubah pikiran dan perilaku negatif yang membuat pasien susah tidur. Terapi ini adalah pilihan utama untuk mengobati pasien insomnia, karena lebih efektif dibanding obat-obatan. Sejumlah metode dalam CBT-I antara lain:

  • Pembatasan waktu tidur. Pasien akan diminta menghindari tidur siang, agar waktu tidur di malam hari dapat meningkat secara bertahap.
  • Teknik relaksasi. Pasien akan diajari cara mengontrol napas, guna mengurangi kecemasan tidak bisa tidur.
  • Terapi kontrol stimulus. Pasien akan dilatih untuk hanya menggunakan kamar tidur untuk tidur atau berhubungan seks. Pasien juga dianjurkan meninggalkan kamar tidur bila tidak bisa tidur dalam 20 menit, dan hanya kembali bila sudah mengantuk.
  • Paradoxical intention. Terapi ini bertujuan mengurangi rasa cemas dan khawatir tidak bisa tidur, justru dengan cara tetap terbangun di tempat tidur dan tidak berharap untuk tertidur.
  • Fototerapi. Fototerapi bertujuan menormalkan jam tidur, pada pasien yang tidur terlalu cepat di malam hari, dan bangun terlalu dini di pagi hari. Dalam fototerapi, pasien akan disinari dengan sinar UV selama 30-40 menit setelah bangun tidur.

Metode lain untuk mengatasi insomnia adalah dengan obat tidur. Umumnya dokter tidak menyarankan penggunaan obat tidur lebih dari beberapa minggu. Beberapa jenis obat yang umumnya diresepkan dokter untuk menangani insomnia, antara lain zolpidem.

Perlu diketahui, obat tidur dapat menimbulkan efek samping pusing, serta bisa meningkatkan risiko pingsan. Oleh karena itu, penting untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter sebelum menggunakan obat tidur untuk insomnia.