Penyakit Lyme

Pengertian Penyakit Lyme

 

Penyakit Lyme adalah infeksi yang disebabkan oleh bakteri genus Borrelia sp yang ditularkan lewat gigitan kutu. Kondisi ini dapat menjangkiti dan mengganggu berbagai sistem organ tubuh. Bakteri jenis Borrelia burgdorferi merupakan penyebab penyakit Lyme di Indonesia.

alodokter-penyakit-lyme

Pengobatan yang dilakukan seefektif dan sesegera mungkin akan menjamin proses kesembuhan yang lebih cepat. Jika dibiarkan begitu saja, gejala-gejala penyakit Lyme akan berkembang semakin parah dan berkepanjangan.

Gejala Penyakit Lyme

Penyakit Lyme memiliki beragam gejala yang muncul secara bertahap. Berikut ini adalah pembagian gejala penyakit Lyme berdasarkan stadium atau tingkat perkembangan penyakit:

  • Stadium 1. Penyakit Lyme stadium 1 ditandai dengan munculnya ruam yang berbentuk seperti gambar target panahan. Ruam ini merupakan pertanda bahwa bakteri berkembang biak di dalam pembuluh darah. Corak ruam yang terbentuk umumnya adalah kemerahan di daerah bekas gigitan kutu, dengan dikelilingi daerah kulit normal dan dikelilingi lagi oleh daerah kemerahan di bagian luarnya. Ruam jenis ini dikenal dengan nama erythema migrans. Meskipun erythema migrans khas untuk penyakit Lyme, pada beberapa kasus, ruam ini bisa jadi tidak muncul. Ruam erythema migrans biasanya muncul sekitar 1-2 minggu setelah penderita digigit kutu.
  • Stadium 2. Penyakit Lyme stadium 2 biasanya terjadi beberapa minggu setelah digigit kutu. Pada stadium 2, bakteri Borrelia sudah menyebar ke seluruh tubuh yang ditandai dengan gejala-gejala mirip flu. Penyakit Lyme stadium 2 juga dapat menimbulkan komplikasi seperti meningitis, gangguan saraf, atau penyakit jantung. Gejala yang menandai penyakit Lyme stadium 2, antara lain adalah:
    • Demam.
    • Menggigil.
    • Sakit kepala.
    • Nyeri otot.
    • Pembesaran kelenjar getah bening.
    • Kelelahan.
    • Sakit tenggorokan.
    • Gangguan penglihatan.
  • Stadium 3. Penyakit Lyme stadium 3 biasanya terjadi jika penderita tidak diobati pada stadium 1 atau 2. Stadium 3 dapat terjadi beberapa minggu, bulan, atau bahkan tahun setelah gigitan kutu. Gejala penyakit Lyme stadium 3, antara lain adalah:
    • Artritis pada salah satu atau lebih dari satu sendi, terutama sendi besar seperti lutut.
    • Mati rasa pada tungkai dan lengan.
    • Aritmia.
    • Gangguan ingatan jangka pendek.
    • Gangguan mental.
    • Sulit diajak berkomunikasi.
    • Sakit kepala berat.
    • Sulit berkonsentrasi.
    • Ensefalopati.

Penyebab Penyakit Lyme

Penyakit Lyme disebabkan oleh bakteri Borrelia sp. Terdapat empat spesies bakteri yang dapat menyebabkan penyakit Lyme pada manusia, yaitu Borrelia burgderfori, Borrelia mayonii, Borrelia afzelii, dan Borrelia garinii. Bakteri Borrelia ditularkan melalui perantara kutu, sering kali melalui kutu genus Ixodes sp. Atau pada beberapa kasus, melalui kutu Ambylomma sp. Kutu jenis Ixodes merupakan kutu yang memiliki kemampuan mengisap darah sebagai makanan, baik darah manusia maupun darah hewan. Bakteri Borrelia biasanya ditularkan oleh kutu Ixodes

Beberapa hal yang dapat menyebabkan seseorang lebih mudah terkena penyakit Lyme, antara lain adalah:

  • Sering beraktivitas di area berumput. Kutu pembawa penyakit Lyme seringkali tinggal di daerah berumput. Selain hidup di kulit rusa, kutu pembawa penyakit ini juga dapat hidup di kulit tikus dan hewan pengerat lainnya. Sering beraktivitas di area berumput dapat menyebabkan seseorang lebih mudah terhinggapi kutu dan terjangkit penyakit Lyme.
  • Tidak membersihkan badan dari kutu. Meskipun sering beraktivitas di daerah berumput, seseorang yang rutin membersihkan kulit dari hinggapan kutu dapat terhindar dari penyakit Lyme.
  • Berpakaian terbuka. Kutu dapat hinggap dengan mudah pada kulit. Oleh karena itu dengan berpakaian terbuka, seseorang dapat lebih mudah terhinggapi kutu dan terkena penyakit Lyme.

Diagnosis Penyakit Lyme

Penyakit Lyme umumnya sulit didiagnosis karena gejala-gejalanya yang cenderung mirip dengan penyakit lain. Cara termudah untuk mengetahui apakah seorang pasien menderita penyakit ini adalah melalui pemeriksaan ruam di kulit. Dokter akan menanyakan riwayat gigitan kutu, walaupun banyak penderita tidak bisa mengingat atau mengetahui hal tersebut.

Pemeriksaan fisik dan pemeriksaan ruam dapat dilakukan selama beberapa hari untuk memastikan adanya erythema migrans sebagai gejala yang khas untuk Penyakit Lyme. Ruam erythema migrans dapat mengalami pelebaran dalam beberapa hari jika belum diberikan antibiotik.

Apabila penderita tidak bisa mengingat pernah digigit kutu dan tidak terdapat erythema migrans, maka dokter akan menganjurkan pasien untuk menjalani tes darah guna memastikan diagnosis. Akan tetapi, perlu diingat bahwa tes darah yang dilakukan pada penderita Penyakit Lyme stadium awal seringkali kurang membantu karena belum terbentuk antibodi spesifik terhadap bakteri Borrelia sp.

Antibodi spesifik terhadap bakteri Borrelia sp dapat terdeteksi di dalam darah penderita melalui metode enzyme-linked immunosorbent assay (disingkat ELISA). Jika hasil tes antibodi Borrelia menggunakan metode ELISA dinyatakan positif, pasien dapat direkomendasikan untuk menjalani tes Western Blot untuk mengonfirmasi hasil tes ELISA.

 

Pengobatan Penyakit Lyme

Langkah pengobatan utama untuk penyakit Lyme adalah dengan antibiotik. Durasi pemakaian antibiotik umumnya akan membutuhkan waktu sekitar dua minggu hingga satu bulan. Perbedaan durasi pengobatan antibiotik pada tiap pasien tergantung kepada tingkat keparahan infeksi yang dialami.

Pasien penderita penyakit Lyme stadium awal biasanya diberikan antibiotik dalam bentuk tablet. Sedangkan bagi pasien penderita penyakit Lyme stadium lanjut dapat diberikan antibiotik dalam bentuk suntikan. Pemberian antibiotik dalam bentuk suntikan juga diberikan jika gejala penyakit Lyme yang diderita melibatkan gangguan sistem saraf pusat. Pengobatan penyakit Lyme stadium awal berlangsung sekitar 14-21 hari, sedangkan stadium lanjut berlangsung sekitar 14-28 hari.

Beberapa jenis antibiotik yang dapat diberikan kepada penderita penyakit Lyme, antara lain adalah :

  • Tetracycline. Ini merupakan kelompok antibiotik pilihan pertama dalam mengobati penyakit Lyme, terutama doxycycline. Namun perlu diingat bahwa doxycycline tidak boleh diberikan kepada wanita hamil, menyusui, maupun anak-anak di bawah usia 8 tahun. Contoh lain dari antibiotik golongan ini adalah tetracycline sendiri.
  • Penisilin. Antibiotik kelompok ini dapat diberikan sebagai pengganti kelompok tetracycline, terutama pada penderita penyakit Lyme yang alergi terhadap doxycycline, ibu hamil, dan anak-anak usia di bawah 8 tahun. Contoh antibiotik penisilin adalah penicillin VK, penicillin G, dan amoxicillin.
  • Makrolid. Selain kedua kelompok antibiotik di atas, antibiotik kelompok makrolid juga dapat membantu mengobati penyakit Lyme. Antibiotik ini dapat diberikan kepada pasien yang tidak dapat diberikan tetracycline maupun penisilin. Contoh antibiotik makrolida adalah erythromycin, clarithromycin, dan azithromycin.
  • Sefalosporin. Antibiotik kelompok ini biasanya digunakan sebagai alternatif bagi pasien yang tidak dapat diberikan doxycyline, sebagai contoh cefuroxime. Selain itu, sefalosporin suntikan juga diberikan untuk pasien dengan gejala yang berat. Contoh antibiotik suntik yang masuk ke dalam kelompok sefalosporin adalah ceftriaxone dan cefotaxime.

Jika diobati dengan cepat, pasien penderita penyakit Lyme biasanya dapat sembuh dan jarang menyebabkan kematian setelah menjalani terapi antibiotik. Akan tetapi, penderita dapat kembali terinfeksi jika digigit lagi oleh kutu penyebar bakteri Borrelia.

Komplikasi Penyakit Lyme

Jika tidak ditangani dengan baik, penyakit Lyme dapat memicu berbagai komplikasi seperti:

  • Gangguan irama
  • Gangguan sistem saraf, misalnya kelumpuhan otot wajah dan neuropati.
  • Kelainan kognitif, misalnya gangguan memori.
  • Peradangan sendi kronis akibat penyakit Lyme (lyme arthritis).

Sepuluh sampai dua puluh persen pasien dapat mengalami post treatment Lyme disease syndrome walaupun sudah diberikan antibiotik yang sesuai. Sindrom ini bisa menetap hingga 6 bulan, dengan gejala sakit kepala, vertigo, nyeri otot atau sendi, rasa lelah, parestesia, sulit tidur, gangguan suasana hati, gangguan kognitif, dan kehilangan pendengaran.

Selama atau setelah pengobatan dapat timbul reaksi alergi atau peradangan yang melibatkan kulit, lapisan mukosa, sistem saraf, dan organ dalam. Ini dinamakan reaksi Jarisch-Herxheimer.

 

Pencegahan Penyakit Lyme

Pencegahan penyakit Lyme bisa dilakukan lewat langkah sederhana. Cara yang paling efektif adalah dengan menghindari tempat-tempat yang mungkin menjadi habitat dari kutu penyebar penyakit Lyme. Misalnya semak belukar atau rerumputan. Ada pula langkah-langkah sederhana lain yang bisa kita lakukan, seperti:

  • Menggunakan pakaian tertutup, terutama saat beraktivitas di tempat yang berumput.
  • Memeriksa diri sendiri, keluarga, dan hewan peliharaan, serta membuang kutu yang hinggap di kulit (bila ada) setelah beraktivitas di daerah berumput. Cara membuangnya adalah dengan mengangkat kutu dari kulit secara perlahan pada bagian kepalanya menggunakan pinset. Jangan memencet maupun menepuk kutu tersebut. Gunakan antiseptik langsung pada daerah yang dihinggapi kutu setelah kutu dibuang dari kulit.
  • Menggunakan krim antiserangga untuk kulit pada saat beraktivitas di daerah berumput. Krim ini dapat digunakan oleh orang dewasa maupun anak-anak untuk menghindari hinggapnya kutu penyebar penyakit Lyme.

Referensi