Clomipramine adalah obat yang digunakan untuk menangani gangguan obsesif kompulsif (OCD), yaitu kelainan psikologis menetap atau menahun (kronis) yang menyebabkan seseorang memiliki pemikiran obsesif dan perilaku kompulsif (bersifat mendorong atau memaksa). Kelainan ini ditandai dengan pikiran atau ketakutan tidak masuk akal (obsesif) yang menyebabkan perilaku berulang-ulang (repetitif). Salah satu contoh, pasien OCD merasa perlu memeriksa pintu, jendela, atau sekeliling rumah berkali-kali sebelum meninggalkan rumah.

Obat yang termasuk golongan antidepresan trisiklik ini digunakan untuk membantu dalam mengurangi pikiran atau ketakutan yang dipaksakan (obsesif), serta dapat menghentikan niat pasien untuk melakukan hal-hal yang terdorong oleh pemikiran obsesif tersebut. Clomipramine bekerja dengan cara mengatur keseimbangan senyawa alami pada otak, yaitu dengan meningkatkan produksi serotonin atau senyawa otak yang mengatur keseimbangan mental.

Merek dagang: Anafranil

Tentang Clomipramine

Golongan Antidepresan trisiklik
Kategori Obat resep
Manfaat Menangani gangguan obsesif kompulsif
Dikonsumsi oleh Dewasa
Kategori kehamilan dan menyusui Kategori C: studi pada binatang percobaan memperlihatkan adanya efek samping terhadap janin, namun belum ada studi terkontrol pada wanita hamil. Obat hanya boleh digunakan jika besarnya manfaat yang diharapkan melebihi besarnya risiko terhadap janin.Clomipramine diketahui bisa diserap ke dalam ASI. Ibu menyusui sebaiknya tidak mengonsumsi obat ini, jika tidak ada anjuran dari dokter.
Bentuk Tablet

Peringatan:

  • Jangan memberikan obat ini kepada bayi.
  • Waspadai pemberian obat ini untuk anak-anak dan remaja. Diskusikan dahulu dengan dokter mengenai penggunaan obat ini.
  • Pasien yang ingin mengonsumsi clomipramine disarankan untuk rutin melakukan pemeriksaan ke dokter.
  • Keluarga pasien dianjurkan untuk menginformasikan segala bentuk perubahan dan kondisi terkini pasien yang sedang mengonsumsi clomipramine kepada dokter.
  • Harap berhati-hati dalam menggunakan obat ini jika memiliki penyakit jantung dan pembuluh darah, pasca serangan jantung, menderita glaukoma, sulit buang air kecil atau besar, hormon tiroid berlebih (hipertiroidisme), kejang, tumor otak, serta gangguan pernapasan.
  • Hindari mengemudikan kendaraan dan mengoperasikan alat berat selama mengonsumsi obat ini.
  • Hentikan konsumsi minuman beralkohol selama mengonsumsi obat ini.
  • Beri tahu dokter jika sedang menggunakan obat-obat lain, termasuk suplemen dan produk herba, yang mungkin dapat menimbulkan interaksi obat yang tidak diinginkan.
  • Jika terjadi reaksi alergi atau overdosis, segera temui dokter.

Dosis Clomipramine

Dosis awal clomipramine untuk orang dewasa adalah 10 mg per hari, ditingkatkan hingga 30-150 mg per hari, diberikan satu kali sehari atau dibagi menjadi beberapa kali pemberian dalam sehari. Beberapa pasien memerlukan dosis yang lebih tinggi hingga 250 mg per hari. Begitu kondisi pasien terlihat membaik, maka dosis akan dijaga pada rentang 50-100 mg per harinya.

Sementara dosis clomipramine untuk orang lanjut usia di atas 65 tahun harus diberikan dengan hati-hati. Dosis awal yang diberikan adalah 10 mg per hari, yang bisa ditingkatkan di bawah pengawasan dokter menjadi 30-75 mg per hari, dan tidak boleh dinaikkan sebelum mencapai sepuluh hari pengobatan. Lalu, dilanjutkan dengan dosis yang akan disesuaikan hingga berakhirnya pengobatan.

Mengonsumsi Clomipramine dengan Benar

Konsumsi clomipramine sesuai anjuran dokter dan petunjuk pada kemasan obat. Jangan menambahkan atau mengurangi dosis obat, tanpa sepengetahuan dokter.

Tablet clomipramine bisa dikonsumsi dengan atau tanpa makanan. Namun, untuk mengurangi risiko nyeri lambung, biasanya obat ini dikonsumsi dalam dosis rendah selama beberapa kali ketika makan.

Jangan menghentikan konsumsi obat ini secara tiba-tiba, kecuali dokter yang menyarankan untuk berhenti, karena dapat memicu gejala putus obat.

Pastikan ada jarak waktu yang cukup antara satu dosis dengan dosis berikutnya. Usahakan untuk mengonsumsi clomipramine pada jam yang sama setiap harinya untuk mengoptimalkan efek obat dan mudah mengingatnya.

Apabila lupa mengonsumsi clomipramine, disarankan untuk segera melakukannya begitu ingat, jika jeda dengan jadwal konsumsi berikutnya belum terlalu dekat. Jika sudah dekat, abaikan dan jangan menggandakan dosis.

Interaksi Obat

Konsultasikan kepada dokter jika sedang mengonsumsi clomipramine bersama dengan obat-obat berikut ini, karena dapat menyebabkan interaksi antar obat:

  • Antiadrenergik (seperti metildopa atau clonidine): dapat mengurangi efek antihipertensi dari kedua obat ini.
  • Antikolinergik (seperti antihistamin, obat antiparkinson, atau atropine): menguatkan efek obat-obatan ini.
  • Antikonvulsan (seperti carbamazepine, phenobarbital, atau phenytoin), cholestyramine, rifampicin: menurunkan kadar clomipramine dalam darah.
  • Antipsikosis (seperti chlorpromazine), antagonis kalsium (seperti diltiazem atau verapamil), cimetidine, methylphenidate, selective serotonin reuptake inhibitors (seperti fluoxetine, fluvoxamine, paroxetine, sertraline), terbinafine, serta asam valproat: meningkatkan kadar clomipramine dalam darah.
  • Kontrasepsi oral (seperti estrogen): meningkatkan efek samping.
  • Obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS): meningkatkan risiko perdarahan.
  • Obat diuretik: memicu hipokalemia.
  • Obat relaksan otot (seperti baclofen): menguatkan efek obat ini.
  • Quinidine: kombinasi kedua obat ini dilarang.

Kenali Efek Samping dan Bahaya Clomipramine

Tiap obat berpotensi menimbulkan efek samping, tidak terkecuali clomipramine. Sejumlah efek samping yang bisa ditimbulkan setelah mengonsumsi clomipramine adalah:

  • Mengantuk
  • Sakit kepala
  • Mual
  • Muntah
  • Mulut kering
  • Hidung tersumbat
  • Perubahan nafsu makan dan berat badan
  • Diare atau konstipasi
  • Rasa gugup
  • Menurunnya gairah seksual
  • Menurunnya ingatan dan konsentrasi
  • Kejang
  • Gemetar pada anggota badan yang tidak bisa dikontrol
  • Denyut jantung cepat atau tidak beraturan
  • Gangguan buang air kecil
  • Mempercayai hal-hal yang tidak ada
  • Berhalusinasi
  • Kesulitan bernapas
  • Kaku otot, lelah, dan lemah yang tidak biasa
  • Nyeri tenggorokan, demam, dan tanda-tanda mengalami infeksi.