Doxicor adalah antibiotik untuk mengatasi penyakit akibat infeksi bakteri, seperti pneumonia. Obat ini juga dapat digunakan dalam pengobatan jerawat yang parah. Doxicor tersedia dalam bentuk kapsul dan hanya bisa diperoleh dengan resep dokter.
Doxycycline yang terkandung dalam Doxicor bekerja dengan cara menghambat pembentukan protein yang berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan bakteri penyebab infeksi. Hal ini membuat bakteri tidak bisa bertahan hidup dan akhirnya mati.

Dalam pengobatan jerawat, Doxicor membasmi bakteri yang menginfeksi pori-pori kulit. Selain itu, obat ini juga mampu mengurangi produksi minyak berlebih yang memicu timbulnya jerawat.
Produk Doxicor
Doxicor tersedia dalam 2 varian dosis, yaitu:
- Doxicor 50 mg 10 kapsul
- Doxicor 100 mg 10 kapsul
Apa Itu Doxicor
| Bahan aktif | Doxycycline |
| Golongan | Obat resep |
| Kategori | Antibiotik golongan tetracycline |
| Manfaat | Mengatasi berbagai penyakit akibat infeksi bakteri, seperti bronkitis, pneumonia, chlamydia, atau servisitis |
| Mengobati jerawat yang parah | |
| Mencegah terjadinya malaria pada orang yang hendak berpergian atau menetap di daerah rawan malaria | |
| Digunakan oleh | Dewasa dan anak usia ≥8 tahun |
| Doxicor untuk ibu hamil | Kategori D: Ada bukti bahwa kandungan obat berisiko terhadap janin manusia. |
| Namun, obat dalam kategori ini masih mungkin digunakan ketika manfaat yang diperoleh lebih besar daripada risikonya, misalnya untuk mengatasi situasi yang mengancam nyawa. | |
| Doxicor untuk ibu menyusui | Doxicor boleh digunakan oleh ibu menyusui dengan lama pengobatan tidak lebih dari 3 minggu. Hal ini karena penggunaan Doxicor dalam jangka panjang pada masa menyusui bisa menghambat perkembangan tulang bayi. |
| Sebaiknya konsultasikan dengan dokter terkait pilihan obat yang lebih aman, terutama jika bayi lahir prematur atau usianya belum genap 1 tahun. | |
| Bentuk obat | Kapsul |
Peringatan sebelum Menggunakan Doxicor
Doxicor tidak boleh digunakan tanpa anjuran dokter. Sebelum menggunakan obat ini, ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan, yaitu:
- Informasikan kepada dokter tentang riwayat alergi yang dimiliki. Doxicor tidak boleh digunakan oleh orang yang alergi terhadap obat ini, atau obat lain dari golongan tetracycline, seperti minocycline.
- Sampaikan kepada dokter jika memiliki asma atau alergi terhadap sulfit. Informasikan juga jika pernah atau sedang menderita kandidiasis vagina, penyakit ginjal, esofagitis atau radang kerongkongan, kandidiasis oral, penyakit liver, lupus, atau myasthenia gravis,
- Konsultasikan terlebih dahulu mengenai penggunaan Doxicor jika Anda pernah mengalami kondisi yang menyebabkan tekanan tinggi di dalam kepala (hipertensi intrakranial), seperti tumor otak atau aneurisma otak.
- Mintalah saran dokter sebelum menggunakan Doxicor jika pernah menjalani operasi pada lambung atau usus, terutama gastrektomi.
- Bicarakan dengan dokter mengenai semua obat yang sedang digunakan, termasuk obat pengencer darah, obat antikonvulsan, suplemen, dan produk herbal. Tujuannya adalah untuk mencegah terjadinya interaksi antarobat.
- Pastikan Ada memberi tahu dokter jika sedang hamil, mungkin sedang hamil, berencana untuk hamil, atau sedang menyusui.
- Beri tahu dokter jika Anda sedang menggunakan pil KB, terutama dengan tujuan mencegah kehamilan. Doxicor dapat menurunkan efektivitas kontrasepsi tersebut. Tanyakan kepada dokter mengenai alat kontrasepsi lain yang bisa digunakan selama menjalani terapi dengan obat ini.
- Sampaikan kepada dokter jika Anda berencana menjalani vaksinasi apa pun. Doxicor dapat menurunkan efektivitas vaksin tertentu, seperti vaksin tifoid.
- Hindari konsumsi obat retinoid, seperti acitretin, selama menjalani pengobatan dengan Doxicor agar tidak terjadi efek samping yang fatal berupa hipertensi intrakranial.
- Jangan terlalu lama terpapar sinar matahari selama menggunakan Doxicor. Obat ini dapat menyebabkan kulit lebih mudah mengalami sunburn. Gunakan tabir surya dan baju yang tertutup jika hendak beraktivitas di luar ruangan pada siang hari. Hubungi dokter jika sunburn parah.
- Segera ke dokter jika terjadi reaksi alergi obat atau efek samping serius setelah mengonsumsi Doxicor.
Dosis dan Aturan Pakai Doxicor
Dosis dan lama pengobatan dengan Doxicor ditentukan oleh dokter berdasarkan usia dan berat badan (BB) pasien serta penyakit infeksi bakteri yang ditangani. Berikut rinciannya:
Kondisi: Infeksi bakteri yang sensitif terhadap doxycycline
- Dewasa dan anak usia 8 tahun dengan BB >45 kg: 200 mg pada hari pertama, dilanjutkan dengan dosis perawatan 100 mg per hari.
- Anak usia 8–11 tahun dengan BB ≤45 kg: 4,4 mg/kgBB pada hari pertama, dilanjutkan dengan dosis 2,2 mg/kgBB per hari.
Kondisi: Jerawat yang parah
- Dewasa: 50–100 mg per hari, selama 6–12 minggu.
Kondisi: Infeksi menular seksual, seperti sifilis, chlamydia, atau gonore
- Dewasa: 100 mg 2 kali sehari, selama 1–4 minggu, tergantung pada jenis infeksi.
Kondisi: Epididimitis dan atau orchitis
- Dewasa: 100 mg 2 kali sehari selama 10 hari.
Kondisi: Leptospirosis ringan
- Dewasa: 100 mg, 2 kali sehari, selama 7 hari
Kondisi: Malaria falciparum yang tidak berhasil ditangani dengan chloroquine
- Dewasa: 200 mg 2 kali sehari, selama 7 hari.
Kondisi: Pencegahan malaria
- Dewasa: 100 mg per hari, dikonsumsi sejak 1–2 hari sebelum pergi ke daerah berisiko tinggi (endemis) malaria, selama berada di sana, sampai 4 minggu setelah meninggalkan tempat tersebut.
- Anak usia >8 tahun: 2 mg/kgBB per hari. Lama penggunaan obat sama dengan orang dewasa.
Kondisi: Pencegahan scrub typhus
- Dewasa: 200 mg dikonsumsi sebagai dosis tunggal.
Kondisi: Anthrax saluran pernapasan
- Dewasa dan anak dengan BB ≥45 kg: 100 mg 2 kali sehari selama 60 hari.
- Anak dengan BB <45 kg: 2,2 mg/kgBB 2 kali sehari selama 60 hari.
Cara Menggunakan Doxicor dengan Benar
Gunakanlah Doxicor sesuai instruksi dokter dan petunjuk yang tertera pada kemasan obat. Jangan menambah atau mengurangi dosis tanpa sepengetahuan dokter.
Agar hasil pengobatan maksimal, ikutilah panduan penggunaan Doxicor berikut:
- Doxicor bisa dikonsumsi bersama makanan atau pada waktu makan guna mencegah timbulnya sakit perut. Telan kapsul obat dengan bantuan air putih.
- Minumlah Doxicor dalam posisi tegak (duduk atau berdiri) dan jangan berbaring setidaknya 30 menit setelah mengonsumsinya. Tujuannya adalah untuk mencegah terjadinya iritasi pada saluran cerna dan tenggorokan.
- Apabila kesulitan menelan kapsul Doxicor secara utuh, bukalah kapsul dan taburkan isinya di atas satu sendok madu atau lumatan pisang.
- Jika sedang mengonsumsi obat antasida berbahan magnesium atau aluminium, maupun suplemen berisi zat besi dan zinc, konsumsilah obat atau suplemen tersebut 2–3 jam setelah minum Doxicor. Obat antasida dan suplemen tersebut dapat mengganggu penyerapan Doxicor.
- Minumlah air putih yang cukup setidaknya 8 gelas setiap hari selama menjalani pengobatan dengan Doxicor. Hal ini bertujuan untuk mencegah timbulnya iritasi pada esofagus.
- Apabila lupa menggunakan Doxicor, segera konsumsi obat ini begitu teringat. Namun, bila waktu minum obat berikutnya sudah dekat, abaikan dosis yang terlewat dan jangan menggandakan dosis selanjutnya.
- Jangan menghentikan pengobatan tanpa persetujuan dokter. Penggunaan antibiotik yang tidak sesuai dengan anjuran dokter dapat membuat bakteri penyebab infeksi menjadi kebal terhadap pengobatan (resistensi antibiotik).
- Lakukan kontrol sesuai jadwal yang diberikan dokter agar kondisi dan respons terapi dapat terpantau. Selama menjalani terapi dengan Doxicor, Anda mungkin akan diminta untuk menjalani pemeriksaan darah, serta tes fungsi hati dan ginjal secara berkala.
- Hubungi dokter jika gejala infeksi tidak membaik meski Doxicor sudah habis dikonsumsi. Anda bisa melakukan konsultasi melalui Chat Bersama Dokter untuk memastikan kondisi dan mendapatkan penanganan lebih lanjut yang cepat.
- Simpan Doxicor di tempat bersuhu ruangan, kering, dan terhindar dari sinar matahari langsung. Jauhkan obat ini dari jangkauan anak-anak.
- Jangan minum Doxicor yang sudah melewati tanggal kedaluwarsa.
Interaksi Doxicor dengan Obat Lain
Interaksi yang mungkin terjadi jika Doxicor dikonsumsi bersama obat-obatan tertentu antara lain:
- Peningkatan risiko terjadinya hipoglikemia jika digunakan dengan obat antidiabetes jenis sulfonilurea, seperti glipizide
- Peningkatan risiko terjadinya peningkatan tekanan di dalam rongga kepala bila diminum bersama obat golongan retinoid, seperti acitretin
- Peningkatan risiko terjadinya perdarahan jika digunakan bersama obat antikoagulan, seperti warfarin
- Peningkatan risiko terjadinya efek samping dari ciclosporin
- Penurunan efektivitas antibiotik penisilin dalam membasmi bakteri
- Penurunan efektivitas Doxicor bila digunakan bersama rifampicin, barbiturat, atau obat antikejang, seperti carbamazepine dan phenytoin
- Penurunan efektivitas Doxicor jika digunakan bersama obat antasida yang mengandung aluminium atau magnesium, maupun suplemen berisi zat besi dan zinc, secara bersamaan atau dalam waktu yang berdekatan
Selain itu, makanan yang mengandung kalsium, seperti susu dan keju, juga bisa menghambat penyerapan Doxicor. Oleh karena itu, beri jeda setidaknya 1 jam antara konsumsi obat dan makanan tersebut.
Agar aman, berkonsultasilah ke dokter sebelum menggunakan Doxicor bersama obat, suplemen, atau produk herbal apa pun.
Efek Samping dan Bahaya Doxicor
Efek samping bisa terjadi akibat konsumsi Doxicor yaitu:
- Mual atau muntah
- Kulit mudah terbakar sinar matahari atau sunburn
- Hilang nafsu makan
- Kulit menjadi lebih gelap
- Sakit perut
- Diare ringan
Jika efek samping yang muncul tidak kunjung membaik atau malah memburuk, lakukan konsultasi melalui Chat Bersama Dokter untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Dokter akan memberikan saran dan pengobatan untuk mengatasi efek samping tersebut.
Segera ke IGD rumah sakit terdekat jika Anda mengalami reaksi alergi obat atau efek samping yang berat, termasuk:
- Sakit perut yang parah, diare berdarah atau sangat berair
- Kesulitan atau nyeri saat menelan
- Nyeri dada, detak jantung tidak teratur, atau sesak napas
- Urine yang keluar saat buang air kecil makin sedikit atau tidak keluar sama sekali
- Sakit kepala parah, telinga berdenging, atau nyeri di belakang mata
- Gangguan penglihatan, seperti penglihatan ganda, penglihatan buram, atau buta mendadak
- Nyeri perut parah yang menjalar hingga punggung, urine keruh atau berwarna gelap, atau warna kulit dan bagian putih mata menguning
- Gatal atau rasa panas pada vagina, disertai dengan keputihan
- Ruam kemerahan atau keunguan yang menyebar luas dan terasa perih, luka lepuh di kulit yang kemudian mengelupas
- Demam, menggigil, kulit pucat, pusing berat seperti akan pingsan
- Mudah memar atau perdarahan yang tidak jelas penyebabnya atau sulit berhenti