Isoniazid adalah obat antibiotik untuk mengatasi tuberkulosis (TBC). Dalam pengobatan TBC, isoniazid bisa dikombinasikan dengan antibiotik lain, ethambutol, pyrazinamide, atau rifampicin.

Selain itu, isoniazid juga digunakan dalam pengobatan infeksi TBC laten (belum berkembang). Kondisi ini bisa dialami oleh seseorang dengan riwayat kontak erat dengan penderita tuberkulosis aktif, orang dengan hasil uji kulit tuberkulin positif, penderita HIV/AIDS, atau penderita fibrosis paru.

isoniazid-alodokter

Isoniazid bekerja dengan cara menghentikan pertumbuhan bakteri Mycobacterium tuberculosis penyebab tuberkulosis.

Merek dagang isoniazid: Bacbutinh, Erabutol Plus, Inadoxin Forte, Inha, INH-CIBA, Inoxin, Isoniazid, Meditam-6, Metham, Pehadoxin Forte, Pulna Forte, Pro TB, Pyravit, Rifanh, Rifastar, Rimactazid 450/300, Rimcure Paed, Suprazid, TB Vit 6

Apa Itu Isoniazid

Golongan Obat resep
Kategori Antituberkulosis
Manfaat Mengobati dan mencegah tuberkulosis
Digunakan oleh Dewasa dan anak-anak
Isoniazid untuk ibu hamil dan menyusui Kategori C: Studi pada binatang percobaan memperlihatkan adanya efek samping terhadap janin, tetapi belum ada studi terkontrol pada wanita hamil. Obat hanya boleh digunakan jika besarnya manfaat yang diharapkan melebihi besarnya risiko terhadap janin.

Isoniazid terserap ke dalam ASI. Bila Anda sedang menyusui, jangan menggunakan obat ini tanpa berkonsultasi dengan dokter.

Bentuk obat Tablet dan sirup

Peringatan Sebelum Mengonsumsi Isoniazid

Isoniazid tidak boleh digunakan sembarangan. Sebelum mengonsumsi isoniazid, Anda perlu memperhatikan beberapa hal berikut:

  • Jangan mengonsumsi isoniazid jika Anda memiliki alergi terhadap obat ini.
  • Beri tahu dokter mengenai riwayat penyakit Anda, terutama jika pernah atau sedang menderita penyakit hati, penyakit ginjal, neuropati perifer, diabetes, HIV/AIDS, kejang, psikosis , atau kecanduan alkohol.
  • Jangan mengonsumsi minuman beralkohol selama menjalani pengobatan dengan isoniazid karena dapat meningkatkan risiko terjadinya gangguan fungsi hati.
  • Beri tahu dokter jika Anda berencana untuk melakukan vaksinasi dengan vaksin hidup, seperti vaksin kolera, selama menjalani pengobatan dengan isoniazid. Hal ini karena obat ini dapat menurunkan efektivitas dari vaksin yang diberikan.
  • Beri tahu dokter jika Anda sedang menggunakan obat-obatan lain, termasuk suplemen dan produk herbal.
  • Beri tahu dokter jika Anda sedang hamil, menyusui, atau merencanakan kehamilan.
  • Segera temui dokter jika terjadi reaksi alergi obat, efek samping yang serius, atau overdosis setelah mengonsumsi isoniazid.

Dosis dan Aturan Pakai Isoniazid

Dosis isoniazid yang diresepkan dokter dapat berbeda pada tiap pasien. Berikut ini adalah dosis isoniazid berdasarkan usia pasien:

  • Dewasa: 5 mg/kgBB hingga 300 mg per hari, sekali sehari. Bisa juga diberikan 15 mg/kgBB hingga 900 mg per hari, 2–3 kali seminggu.
  • Anak-anak: 10–15 mg/kgBB hingga 300 mg per hari, sekali sehari. Bisa juga diberikan 20–40 mg, hingga 900 mg per hari, 2–3 kali seminggu.

Cara Mengonsumsi Isoniazid dengan Benar

Ikuti anjuran dokter dan baca informasi yang tertera pada label kemasan obat sebelum mengonsumsi isoniazid.

Isoniazid sebaiknya dikonsumsi ketika perut dalam keadaan kosong, yaitu 1 jam sebelum makan atau 2 jam setelah makan.

Jika menggunakan isoniazid dalam bentuk sirup, gunakan sendok takar khusus obat yang disertakan dalam kemasan. Jangan gunakan sendok lain, karena dosisnya bisa tidak tepat.

Pastikan ada jarak waktu yang cukup antara satu dosis dengan dosis berikutnya. Jika isoniazid dikonsumsi secara harian, usahakan untuk selalu mengonsumsi isoniazid pada jam yang sama setiap harinya. Jika isoniazid dikonsumsi secara mingguan, usahakan untuk mengonsumsi isoniazid pada hari yang sama.

Jika lupa mengonsumsi isoniazid, disarankan untuk segera melakukannya begitu ingat bila jeda dengan jadwal konsumsi berikutnya tidak terlalu dekat. Jika sudah dekat, abaikan dan jangan menggandakan dosis.

Jangan menghentikan penggunaan isoniazid meski gejala yang dirasakan sudah mereda, kecuali atas saran dari dokter. Menghentikan penggunaan obat terlalu cepat dapat menyebabkan infeksi muncul kembali dan menjadi sulit untuk diobati.

Lakukan pemeriksaan fungsi hati secara rutin selama menggunakan isoniazid, sehingga dokter bisa mengetahui secara dini bila terjadi gangguan fungsi hati.

Dokter mungkin akan memberikan tambahan vitamin B6 selama menggunakan isoniazid. Hal ini dilakukan untuk mencegah munculnya efek samping berupa gangguan saraf perifer.

Simpan isoniazid pada suhu ruangan dan di dalam wadah tertutup untuk menghindari paparan sinar matahari, serta jauhkan dari jangkauan anak-anak.

Interaksi Isoniazid dengan Obat Lain

Interaksi antarobat yang dapat terjadi jika isoniazid digunakan bersamaan dengan obat-obatan lain adalah:

  • Menghambat metabolisme dari obat antikonvulsan, benzodiazepine, chlorzoxazone, disulfiram, atau teofilin
  • Meningkatkan konsentrasi atau kadar dari warfarin, clofazimine, atau cycloserine
  • Menurunkan penyerapan isoniazid jika digunakan dengan antasida yang mengandung aluminium hidroksida
  • Meningkatkan risiko terjadinya neuropati perifer jika digunakan dengan stavudine atau zalcitabine

Selain itu, penggunaan isoniazid bersama dengan makanan yang mengandung tyramine, seperti keju atau anggur merah, juga bisa meningkatkan risiko terjadinya kenaikan tekanan darah, sakit kepala, jantung berdebar, atau pusing.

Efek Samping dan Bahaya Isoniazid

Beberapa efek samping yang mungkin terjadi setelah menggunakan isoniazid adalah:

Konsultasikan dengan dokter jika efek samping di atas tidak segera mereda atau semakin memberat. Anda perlu segera ke dokter jika mengalami reaksi alergi obat atau efek samping yang lebih serius, seperti:

  • Demam
  • Pandangan kabur atau mata yang terasa sakit
  • Sakit tenggorokan
  • Kesemutan di tangan atau kaki atau bengkak di sendi
  • Kejang
  • Mudah memar
  • Perubahan suasana hati
  • Pembengkakan kelenjar getah bening
  • Radang hati atau hepatitis