Nilotinib adalah obat yang digunakan untuk mengobati chronic myelogenous leukemia (CML). Chronic myelogenous leukemia adalah jenis kanker darah di mana sumsum tulang menghasilkan terlalu banyak sel darah putih jenis granulosit.

Nilotinib bekerja dengan cara menghambat protein kinase, sehingga menghentikan pertumbuhan sel kanker. Obat ini dapat digunakan oleh orang dewasa dan anak-anak usia di atas 1 tahun. Nilotinib biasanya digunakan pada pasien yang baru didiagnosis menderita CML, atau ketika kondisinya tidak berhasil diobati dengan pengobatan lainnya.

Nilotinib - Alodokter

Merek dagang nilotinib: Tasigna

Apa Itu Nilotinib

Golongan Obat resep
Kategori Penghambat protein kinase
Manfaat Mengobati chronic myelogenous leukemia (CML)
Dikonsumsi oleh Dewasa dan anak-anak
Nilotinib untuk ibu hamil dan menyusui

 

Kategori D: Ada bukti positif mengenai risiko terhadap janin manusia, tetapi besarnya manfaat yang diperoleh mungkin lebih besar dari risikonya, misalnya untuk mengatasi situasi yang mengancam nyawa.

Belum diketahui apakah nilotinib dapat terserap ke dalam ASI atau tidak. Bila Anda sedang menyusui, jangan menggunakan obat ini tanpa memberi tahu dokter.

Bentuk obat Kapsul

Peringatan Sebelum Mengonsumsi Nilotinib

Nilotinib hanya boleh dikonsumsi sesuai dengan resep dokter. Sebelum mengonsumsi obat ini, Anda perlu memperhatikan beberapa hal berikut:

  • Beri tahu dokter tentang riwayat alergi yang Anda miliki. Nilotinib tidak boleh digunakan oleh pasien yang alergi terhadap obat ini.
  • Beri tahu dokter jika Anda menderita hipokalemia, kadar magnesium rendah (hipomagnesemia), atau long QT syndrome. Nilotinib tidak boleh digunakan pada kondisi tersebut.
  • Beri tahu dokter jika Anda pernah atau sedang menderita penyakit liver, gangguan elektrolit, gangguan irama jantung, pankreatitis, penyakit jantung, tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, perdarahan, diabetes, stroke, penyakit pembuluh darah, atau riwayat operasi perut, seperti gastrektomi.
  • Hindari mengonsumsi grapefruit selama mengonsumsi nilotinib, karena grapefruit dapat berinteraksi dengan nilotinib dan meningkatkan risiko terjadinya efek samping.
  • Jangan melakukan imunisasi atau vaksinasi tanpa persetujuan dokter, serta hindari kontak dengan orang yang baru saja menerima vaksin hidup.
  • Beri tahu dokter jika Anda sedang hamil, menyusui, atau merencanakan kehamilan. Gunakan alat kontrasepsi untuk mencegah kehamilan, selama menjalani pengobatan dengan nilotinib.
  • Beri tahu dokter jika Anda sedang mengonsumsi obat, suplemen, atau produk herbal tertentu.
  • Beri tahu dokter bahwa Anda sedang menggunakan nilotinib sebelum menjalani operasi, termasuk operasi gigi.
  • Segera temui dokter jika terjadi reaksi alergi obat, efek samping yang serius, atau overdosis setelah menggunakan nilotinib.

Dosis dan Aturan Pakai Nilotinib

Dosis nilotinib yang diresepkan dokter dapat berbeda pada tiap pasien. Berikut ini adalah dosis nilotinib berdasarkan kondisi dan usia pasien:

Kondisi: Fase kronis chronic myelogenous leukemia kromosom Philadelphia positif

  • Dewasa: Dosis untuk pasien yang baru didiagnosis adalah 300 mg, 2 kali sehari.
  • Anak-anak: Dosis untuk pasien anak-anak yang baru didiagnosis dan yang resisten terhadap pengobatan lain akan diberikan dengan perhitungan luas permukaan tubuh. Dosisnya adalah 230 mg/m2, 2 kali sehari. Dosis maksimal 400 mg sebagai dosis tunggal.

Kondisi: Fase akselerasi dan kronis chronic myelogenous leukemia kromosom Philadelphia positif

  • Dewasa: Dosis untuk pasien yang resisten terhadap pengobatan lain adalah 400 mg, 2 kali sehari.

Pengurangan dosis atau penghentian pengobatan mungkin diperlukan, sesuai respons tubuh pasien terhadap pengobatan.

Cara Mengonsumsi Nilotinib dengan Benar

Ikuti anjuran dokter dan baca informasi yang tertera pada label kemasan obat sebelum mengonsumsi nilotinib.

Nilotinib dikonsumsi saat perut kosong, setidaknya 2 jam sebelum atau 1 jam setelah makan. Jangan mengurangi atau menambah dosis tanpa berkonsultasi dulu dengan dokter.

Telan kapsul secara utuh dengan segelas air. Telan dalam bentuk utuh, jangan mengunyah atau menghancurkan kapsul.

Jika Anda sedang menjalani pengobatan dengan antasida, konsumsi obat 2 jam sebelum atau sesudah mengonsumsi nilotinib. Jika Anda sedang menjalani pengobatan dengan obat golongan antagonis H2, seperti ranitidine, konsumsi obat 10 jam sebelum atau 2 jam setelah mengonsumsi nilotinib.

Tetap minum obat ini meski Anda telah merasa sehat. Jangan berhenti minum obat ini tanpa berkonsultasi dengan dokter.

Jika lupa mengonsumsi nilotinib, disarankan untuk segera melakukannya bila jeda dengan jadwal konsumsi berikutnya belum terlalu dekat. Jika sudah dekat, abaikan dan jangan menggandakan dosis.

Selama menjalani pengobatan dengan nilotinib, Anda akan diminta melakukan pemeriksaan darah atau EKG secara rutin. Selalu ikuti jadwal pemeriksaan dan saran yang diberikan oleh dokter.

Simpan nilotinib di tempat yang kering dan terhindar dari paparan sinar matahari langsung. Jauhkan dari jangkauan anak-anak.

Interaksi Nilotinib dengan Obat Lain

Nilotinib dapat menyebabkan interaksi obat jika digunakan bersama obat-obatan lain. Berikut ini adalah beberapa efek interaksi obat yang dapat terjadi:

  • Penurunan efektivitas nilotinib jika digunakan bersama obat penghambat pompa proton
  • Peningkatan konsentrasi serum nilotinib jika digunakan dengan ketoconazole, itraconazole, voriconazole, ritonavir, atau telithromycin
  • Peningkatan risiko terjadinya perpanjangan interval QT jika digunakan dengan obat antiaritmia, haloperidol, sotatolol, atau clarithromycin
  • Penurunan konsentrasi nilotinib di dalam tubuh jika digunakan dengan phenobarbital, carbamazepine, atau phenytoin

Efek Samping dan Bahaya Nilotinib

Beberapa efek samping yang bisa terjadi setelah mengonsumsi nilotinib adalah:

Konsultasikan dengan dokter jika efek samping di atas tidak segera mereda atau semakin memberat. Anda perlu segera ke dokter jika mengalami reaksi alergi obat, pertumbuhan anak yang lambat atau terhenti, atau efek samping yang lebih serius, seperti:

  • Buang air besar berdarah, urine mengandung darah, atau mudah memar
  • Demam
  • Bengkak pada pergelangan tangan, kaki, atau wajah
  • Sakit perut yang parah
  • Pingsan
  • Kejang
  • Kulit dan bagian putih mata berwarna kuning (penyakit kuning)
  • Sakit kepala yang sangat berat