Teh hijau adalah tanaman herbal yang berasal dari daun Camellia sinensis dan telah lama digunakan sebagai minuman kesehatan. Teh hijau dipercaya dapat membantu menurunkan berat badan, menjaga kesehatan jantung, serta melindungi sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas.
Teh hijau telah lama dikenal sebagai minuman sehat di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Jenis teh ini mengandung antioksidan tinggi, seperti katekin, yang berperan penting dalam melindungi sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas, mendukung kesehatan jantung, dan mengontrol berat badan.
Selain itu, teh hijau juga memiliki kandungan kafein, asam amino, l-theanine, serta vitamin dan mineral, yang dapat membantu meningkatkan fokus dan konsentrasi, menjaga stamina tubuh, serta mendukung fungsi metabolisme agar tetap optimal.
Di Indonesia, teh hijau umumnya dinikmati sebagai minuman yang terbuat dari daun kering. Namun, seiring popularitasnya, teh hijau kini tersedia dalam berbagai bentuk, seperti teh celup, bubuk, ekstrak, minuman kemasan, dan suplemen kesehatan.
Apa Itu Teh Hijau
| Nama ilmiah | Camellia sinensis (L.) Kuntze. |
| Nama lain |
Green tea
Ocha Lǜ chá Nokcha Trà xanh Cha kheiyw Yabukita Benifuuki |
| Manfaat | Mendukung penurunan berat badan |
| Menjaga kesehatan jantung dan otak | |
| Melindungi sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas | |
| Membantu menurunkan risiko penyakit kronis, seperti diabetes tipe 2, stroke, dan kanker | |
| Membantu memperlambat tanda penuaan kulit | |
| Digunakan oleh | Dewasa |
| Teh hijau untuk ibu hamil | Teh hijau umumnya masih aman dikonsumsi dalam jumlah terbatas selama kehamilan, yaitu maksimal 1–2 cangkir per hari. |
| Namun, jika dikonsumsi secara berlebihan atau dosis tinggi (>200 mg/hari), teh hijau dapat meningkatkan asupan kafein dalam tubuh yang berisiko memicu keguguran. | |
| Selain itu, teh hijau juga bisa mengganggu penyerapan asam folat yang penting untuk mencegah cacat lahir pada janin. | |
| Teh hijau untuk ibu menyusui | Kandungan kafein dalam teh hijau dapat terserap ke ASI. Hal ini dapat menyebabkan efek samping pada bayi, seperti sulit tidur, lebih rewel, dan mengalami peningkatan frekuensi BAB. |
| Oleh karena itu, pastikan untuk berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu sebelum mengonsumsi teh hijau. | |
| Bentuk sediaan | Bahan mentah, teh, herbal kering, bubuk, kapsul, tablet atau ekstrak |
Peringatan sebelum Menggunakan Teh Hijau
Supaya tidak menimbulkan efek samping, ada beberapa hal yang perlu Anda perhatikan sebelum mengonsumsi teh hijau:
- Jangan mengonsumsi teh hijau jika Anda alergi terhadap bahan ini. Apabila ragu, konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter mengenai alergi yang Anda miliki.
- Diskusikan dengan dokter mengenai penggunaan teh hijau jika Anda sedang menggunakan obat lain, termasuk suplemen dan produk herbal lain. Tujuannya adalah untuk menghindari interaksi obat yang tidak diinginkan.
- Beri tahu dokter jika Anda pernah atau sedang menderita anemia, gangguan kecemasan, gangguan perdarahan, penyakit jantung, aritmia, diabetes, diare, kejang, glaukoma, hipertensi, penyakit ginjal, irritable bowel syndrome, hipoglikemia, penyakit tiroid, penyakit hati, atau osteoporosis.
- Sampaikan kepada dokter jika Anda mengalami kesulitan tidur.
- Hindari mengonsumsi teh hijau dalam kadar yang tinggi jika Anda sedang hamil, menyusui, atau merencanakan kehamilan, tanpa arahan dari dokter.
- Segera ke dokter jika mengalami reaksi alergi atau efek samping serius, seperti sesak napas, pusing berat atau jantung berdebar setelah menggunakan teh hijau.
Aturan Pakai Teh Hijau
Meski umumnya aman, konsumsi teh hijau dalam dosis tinggi tetap perlu diwaspadai, karena dapat menimbulkan efek samping. Oleh karena itu, penting untuk memperhatikan dosis dan aturan pakainya.
Berikut ini adalah batas konsumsi penggunaan teh hijau:
- Untuk orang dewasa: konsumsi teh hijau umumnya dianjurkan sebanyak 2–3 cangkir per hari. Jumlah ini setara dengan sekitar 100–150 mg kafein, tergantung jenis dan cara menggunakannya.
- Untuk ibu hamil: konsumsi teh hijau hanya boleh 1–2 cangkir per hari.
Jika Anda mengonsumsi suplemen yang mengandung ekstrak teh hijau, dosis umum penggunaannya adalah sekitar 250–500 mg per hari. Agar lebih aman, pastikan untuk berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu sebelum menggunakannya.
Cara Menggunakan Teh Hijau dengan Benar
Gunakan teh hijau sesuai aturan pakai yang tertera pada kemasan produk atau ikuti anjuran dokter. Jangan menambah dosis atau mengonsumsi teh hijau melebihi jangka waktu yang dianjurkan tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter.
Kebanyakan orang berpikir bahwa mengonsumsi obat herbal selalu aman karena kandungannya alami. Namun, perlu diingat bahwa tidak semua obat herbal sudah diketahui efek sampingnya, termasuk jika digunakan dengan obat atau bahan aktif lain.
Oleh karena itu, konsultasikan ke dokter sebelum menggunakan teh hijau jika Anda memiliki kondisi kesehatan tertentu atau sedang menjalani terapi dengan obat tertentu.
Berikut adalah cara menggunakan teh hijau dengan benar:
- Konsumsi teh hijau bersama makanan untuk mengurangi risiko sakit maag.
- Daun teh hijau segar biasanya dicuci bersih, lalu diseduh dengan air panas bersuhu 70–80°C selama 2–3 menit. Gunakan secukupnya, yaitu ±1 sendok makan daun segar per cangkir. Hindari menyeduh terlalu lama agar tidak terlalu pahit dan kadar kafein tidak meningkat.
- Untuk membuat teh hijau, Anda bisa memasukkan 1 kantong teh ke dalam 1 cangkir air panas lalu diamkan selama 2–3 menit. Jangan diperas terlalu kuat karena dapat membuat rasa pahit dan meningkatkan kandungan tanin.
- Jika menggunakan teh hijau dalam bentuk herbal kering, gunakan sekitar 1 teaspoon daun teh kering untuk 200 ml air. Seduh dengan air panas (70–80°C) selama 2–3 menit, kemudian saring sebelum diminum.
- Teh hijau dalam bentuk kapsul atau tablet dalam bentuk kapsul atau tablet dapat ditelan secara langsung dengan bantuan air putih, tanpa dibelah atau dikunyah terlebih dahulu.
- Jika menggunakan teh hijau dalam bentuk bubuk, larutkan ½–1 sendok teh ke dalam 150–200 ml air hangat, lalu aduk hingga rata.
- Jika Anda sedang mengonsumsi suplemen zat besi, beri jeda 1–2 jam sebelum minum teh hijau.
- Simpan teh hijau di tempat kering dan sejuk, serta terhindar dari paparan sinar matahari langsung. Pastikan teh hijau atau produk olahannya disimpan di tempat yang tidak terjangkau oleh anak-anak.
- Jangan menggunakan produk teh hijau yang sudah melewati tanggal kedaluwarsa.
Interaksi Teh Hijau dengan Obat Lain
Beberapa interaksi yang mungkin terjadi bila teh hijau dikonsumsi bersamaan obat, suplemen, atau produk herbal lain adalah:
- Penurunan efektivitas obat pengencer darah, seperti warfarin
- Penurunan efektivitas obat jantung (adenosine atau dipyridamole), obat penenang (diazepam atau amobarbital), obat kejang (phenytoin atau phenobarbital), atorvastatin, fexofenadine, nadolol, carbamazepine, atau imatinib
- Peningkatan risiko efek samping dari obat golongan dekongestan, seperti jantung berdebar, tekanan darah meningkat, atau gelisah.
- Peningkatan efektivitas clozapine, teofilin, atau midazolam
- Penurunan kadar obat lithium di dalam tubuh
- Peningkatan risiko terjadinya hipoglikemia bisa dikonsumsi dengan obat antidiabetes, seperti metformin
- Peningkatan risiko terjadinya kerusakan hati jika digunakan bersama isoniazid, rifampicin, methotrexate, ketoconazole, simvastatin, atau amiodarone
- Peningkatan efek samping teh hijau jika digunakan bersama terbinafine, ticlopidine, fenotiazin, verapamil, pil KB, atau obat golongan antibiotik
Untuk mengurangi risiko interaksi yang tidak diinginkan, konsultasikan dengan dokter terlebih dahulu sebelum menggunakan teh hijau bersama obat atau suplemen lain.
Efek Samping dan Bahaya Teh Hijau
Meski umumnya aman, konsumsi teh hijau secara berlebihan dapat menimbulkan sejumlah efek samping, seperti:
- Sakit kepala
- Detak jantung tidak teratur
- Cemas atau gelisah
- Tremor
- Gangguan pencernaan, seperti mual, sakit perut, atau kembung
- Sulit tidur
Apabila efek samping tersebut tidak kunjung membaik atau justru memburuk, sebaiknya segera buat janji temu dengan dokter melalui fitur booking dokter di aplikasi ALODOKTER.
Untuk mendapatkan saran awal pengobatan, Anda juga bisa berkonsultasi dengan dokter lewat chat. Namun, jika muncul reaksi alergi berat setelah menggunakan teh hijau, segera kunjungi IGD rumah sakit terdekat untuk mendapatkan penanganan yang tepat.
