Fluza adalah obat yang digunakan untuk meredakan gejala flu, mulai dari demam, batuk, hidung tersumbat, dan bersin-bersin. Fluza tersedia dalam bentuk kaplet salut selaput, serta merupakan obat bebas terbatas yang bisa didapatkan di apotek tanpa resep dokter.
Fluza merupakan obat flu dan batuk yang mengandung 5 bahan aktif. Setiap kaplet Fluza terdiri dari 500 mg paracetamol, 50 mg guaifenesin, 15 mg dextromethorphan, 12,5 mg phenylpropanolamine, serta 2 mg chlorpheniramine maleate.

Masing-masing kandungan dalam Fluza memiliki fungsi dan mekanisme kerja yang berbeda untuk meredakan berbagai keluhan flu dan batuk. Berikut ini penjelasannya:
- Paracetamol, bekerja pada pusat pengatur suhu dan nyeri di otak sehingga dapat menurunkan demam serta meredakan sakit kepala saat flu
- Chlorpheniramine, berperan dalam menghambat kerja histamin sehingga keluhan bersin-bersin dan hidung meler dapat berkurang
- Phenylpropanolamine, bekerja dengan mengecilkan pembuluh darah yang membengkak di rongga hidung sehingga hidung tersumbat terasa lebih lega
- Guaifenesin, berfungsi untuk mengencerkan dahak agar lebih mudah dikeluarkan saat batuk
- Dextromethorphan, bekerja dengan menekan sinyal batuk yang berasal dari otak sehingga dapat mengurangi keinginan untuk batuk
Kombinasi kelima bahan aktif tersebut membuat Fluza efektif meredakan berbagai gejala flu dan pilek yang disertai batuk, baik batuk kering maupun batuk berdahak. Obat ini juga dapat digunakan untuk mengatasi gejala alergi atau common cold.
Apa Itu Fluza
| Bahan aktif | Paracetamol, guaifenesin, dextromethorphan HBr, phenylpropanolamine, dan chlorpheniramine maleate |
| Golongan | Obat bebas terbatas |
| Kategori | Obat flu dan batuk kombinasi analgetik-antipiretik (paracetamol), antihistamin (chlorpheniramine), dekongestan (phenylpropanolamine), ekspektoran (guaifenesin), dan antitusif (dextromethorphan HBr) |
| Manfaat | Mengurangi gejala flu yang disertai batuk |
| Digunakan oleh | Dewasa dan anak usia ≥6 tahun |
| Fluza untuk ibu hamil | Kategori C: Studi pada binatang percobaan memperlihatkan adanya efek samping guaifenesin, phenylpropanolamine, dan dextromethorphan terhadap janin, tetapi belum ada studi terkontrol pada ibu hamil. |
| Obat ini hanya boleh digunakan jika besarnya manfaat yang diharapkan melebihi besarnya risiko terhadap janin. | |
| Fluza untuk ibu menyusui | Fluza tidak boleh digunakan oleh ibu menyusui, kecuali atas petunjuk dokter. |
| Bentuk obat | Kaplet salut selaput |
Peringatan sebelum Menggunakan Fluza
Meski tergolong obat bebas terbatas, Fluza tidak boleh digunakan sembarangan. Sebelum menggunakan obat ini atau memberikan obat ini kepada anak, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain:
- Beri tahu dokter riwayat alergi yang Anda miliki. Obat ini tidak boleh digunakan jika Anda memiliki alergi terhadap paracetamol, phenylpropanolamine, dan chlorpheniramine.
- Sampaikan kepada dokter jika Anda memiliki riwayat penyakit tertentu, seperti penyakit liver, penyakit ginjal, penyakit jantung, tekanan darah tinggi, gagal jantung, epilepsi, glaukoma, asma, emfisema, bronkitis kronis, diabetes, sakit maag, tukak lambung, varises esofagus, obstruksi usus, riwayat kolostomi atau ileostomi.
- Hindari penggunaan bersama MAOI seperti isocarboxazid atau phenelzine dalam 14 hari terakhir.
- Jangan konsumsi alkohol selama menjalani pengobatan, karena dapat meningkatkan risiko kerusakan hati, terutama saat menggunakan paracetamol.
- Informasikan kepada dokter jika Anda mengonsumsi alkohol secara rutin atau memiliki gangguan kecanduan alkohol.
- Beri tahu dokter jika Anda sedang hamil, menyusui, atau merencanakan kehamilan.
- Pastikan untuk memberi tahu dokter semua obat yang sedang Anda konsumsi, termasuk suplemen, maupun produk herbal, untuk mencegah interaksi obat yang berbahaya.
- Segera ke dokter jika muncul reaksi alergi obat atau efek samping yang serius setelah menggunakan Fluza.
Dosis dan Aturan Pakai Fluza
Dokter akan menentukan dosis Fluza berdasarkan usia dan kondisi pasien. Secara umum, berikut ini adalah dosis paracetamol, phenylpropanolamine, chlorpheniramine maleate, guaifenesin dan dextromethorphan yang terkandung dalam Fluza:
- Dewasa dan anak usia >12 tahun: 1 kaplet, 3 kali sehari.
- Anak usia 6–12 tahun: ½ kaplet, 3 kali sehari.
Cara Menggunakan Fluza dengan Benar
Gunakan Fluza sesuai dengan petunjuk yang tertera pada label kemasan atau sesuai anjuran dokter. Jangan menambah, mengurangi, atau menggandakan dosis tanpa berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu.
Berikut ini adalah cara menggunakan Fluza dengan benar yang bisa Anda ikuti:
- Fluza dapat diminum sebelum maupun sesudah makan. Jika muncul keluhan tidak nyaman pada lambung, sebaiknya konsumsi obat ini bersamaan dengan makanan atau segera setelah makan.
- Telan kaplet Fluza dengan bantuan air putih.
- Perbanyak minum air putih selama mengalami flu dan batuk. Hal ini bertujuan untuk mengencerkan dahak, serta mengurangi risiko efek samping, seperti mulut atau tenggorokan kering.
- Hentikan penggunaan Fluza jika keluhan flu dan batuk sudah mereda. Obat ini hanya digunakan jika ada gejala.
- Jangan menggunakan Fluza lebih dari 3 hari karena dapat menyebabkan efek samping dan memperburuk gejala.
- Segera hubungi dokter jika keluhan flu dan batuk tidak membaik setelah 3 hari mengonsumsi Fluza. Konsultasi online dengan dokter dapat menjadi pilihan untuk memperoleh penanganan lanjutan dengan cepat.
- Simpan Fluza di tempat bersuhu ruangan, kering, dan terhindar dari sinar matahari langsung. Jauhkan obat ini dari jangkauan anak-anak.
- Jangan mengonsumsi Fluza yang sudah melewati tanggal kedaluwarsa.
Interaksi Fluza dengan Obat Lain
Berdasarkan kandungannya, efek interaksi yang bisa terjadi jika Fluza digunakan bersama dengan obat lain adalah:
- Peningkatan risiko terjadinya kerusakan hati jika digunakan dengan isoniazid
- Peningkatan efek kantuk jika digunakan dengan obat antinyeri golongan opioid, obat barbiturat, obat tidur, atau obat antipsikotik
- Peningkatan risiko terjadinya hipertensi yang berakibat fatal jika digunakan bersama bromocriptine, atau obat MAOI, seperti phenelzine atau isocarboxazid
- Peningkatan risiko terjadinya efek samping dari dextromethorphan jika digunakan dengan amiodarone atau haloperidol
- Peningkatan risiko terjadinya sindrom serotonin jika digunakan bersama antidepresan golongan selective serotonin reuptake inhibitors (SSRI) atau trisiklik
Agar aman, konsultasikan ke dokter jika akan menggunakan Fluza bersama obat, suplemen, atau produk herbal apa pun.
Efek Samping dan Bahaya Fluza
Meski bermanfaat untuk mengobati gejala flu, penggunaan Fluza bisa menimbulkan sejumlah efek samping. Beberapa efek samping ringan dan umum yang dapat terjadi adalah:
- Sakit kepala
- Mual atau muntah
- Sulit tidur
- Nyeri lambung atau gejala sakit maag ringan
- Ruam kulit ringan
Periksakan diri ke dokter jika Anda mengalami reaksi alergi atau efek samping yang lebih serius, seperti:
- Nyeri di perut bagian kanan atas
- Memar atau perdarahan yang tidak biasa
- Urine berwarna gelap
- Feses berwarna pucat seperti tanah liat
- Kulit atau bagian putih mata menguning
- Batuk berdarah atau muntah yang tampak seperti bubuk kopi
- Nyeri dada, sesak napas, atau bunyi napas mengi
- Muntah yang terus-menerus dan makin parah
Segera konsultasikan ke dokter jika keluhan atau efek samping di atas tidak juga mereda atau justru makin parah. Anda bisa menggunakan fitur Chat Bersama Dokter atau buat janji konsultasi langsung melalui aplikasi Alodokter.