Pilihan Menanggulangi Serangan Migrain

Migrain sebenarnya tidak dapat disembuhkan, namun meski penyakit ini tidak dapat disembuhkan, frekuensi dan rasa sakit yang dirasakan dapat diringankan. Terdapat cara-cara yang berbeda bagi tiap orang dalam menangani migrain. Beberapa merasa lebih baik dengan mengonsumsi obat tertentu, sementara yang lain memilih berbaring di dalam kamar gelap.

Anda barangkali perlu mencoba beberapa cara berbeda sebelum menemukan langkah paling tepat dalam menangani penyakit ini. Strategi penanganan tergantung pada frekuensi,  tingkat keparahan migrain, dan kondisi kesehatan Anda secara umum, termasuk situasi khusus seperti pada wanita hamil dan menyusui.

Banyak orang merasa nyaman mengonsumsi kombinasi obat-obatan pereda rasa sakit dan antimual yang dijual bebas di pasaran, namun sebaiknya Anda mengonsultasikannya kepada dokter. Disarankan untuk mengonsumsi obat-obatan antimual dan pereda sakit secara terpisah agar Anda dapat membatasi dosis dari masing-masing obat.

Obat pereda rasa sakit

Rasa sakit pada migrain stadium menengah dapat diringankan dengan obat yang dijual bebas, seperti aspirin, paracetamol, atau obat-obatan antiinflamasi (NSAIDs), seperti ibuprofen. Acetaminofen juga dapat meringankan gejala pada beberapa orang. Selain itu, ada juga obat yang merupakan kombinasi dari acetaminophen, aspirin, dan kafein yang efektif dalam mengobati migrain.

Obat-obatan tersebut sebaiknya dikonsumsi saat gejala migrain pertama kali terasa agar memberi waktu yang cukup untuk obat terserap ke dalam pembuluh darah sehingga meredakan sakit. Jenis yang paling mudah diserap tubuh adalah yang berjenis tablet yang dilarutkan dalam air. Tablet larut tersebut juga tepat dikonsumsi pengidap yang merasa mual dan tidak bisa menelan pil. Pada kasus ini, penderita juga dapat menggunakan kapsul suppositoria yang dimasukkan ke anus.

Sebelum mengonsumsi obat-obatan tersebut, sebaiknya perhatikan beberapa hal berikut ini:

  • Aspirin dan ibuprofen tidak direkomendasikan untuk orang dewasa yang pernah memiliki gangguan perut, seperti sakit maag, gangguan ginjal, atau penyakit organ hati. Jika dikonsumsi dalam jangka panjang, obat ini justru dapat memperburuk kondisi maag dan mengakibatkan pendarahan pada saluran pencernaan.
  • Aspirin dan ibuprofen juga tidak direkomendasikan bagi penderita yang berusia di bawah 16 tahun.
  • Pastikan Anda membaca petunjuk penggunaan tiap kali sebelum mengonsumsi obat-obatan yang dijual bebas.
  • Waspadai efek samping sakit kepala akibat mengonsumsi obat pereda sakit. Terlalu sering mengonsumsi obat-obatan ini justru dapat membuat kondisi migrain memburuk.
  • Jika obat-obatan yang dijual bebas dirasa tetap tidak efektif, atau jika Anda terus-menerus membutuhkan obat pereda rasa sakit, disarankan untuk berkonsultasi kepada dokter.

Dokter akan menyarankan penghentian konsumsi obat jika dia memperkirakan bahwa penggunaannya justru membuat sakit kepala Anda memburuk. Jika tidak, dokter mungkin akan memberikan resep pereda rasa sakit dalam dosis lebih tinggi atau yang dikombinasikan dengan triptan dan obat antimual. Obat pereda rasa sakit dan obat antimual dapat dikonsumsi sekaligus atau secara terpisah, tergantung kepada kondisi dan kenyamanan pasien. Selengkapnya akan dijelaskan di bawah ini.

Triptan

Triptan adalah kelompok obat-obatan yang dapat meredam perubahan zat kimia dalam otak yang menjadi penyebab migrain. Triptan berfungsi memicu penyempitan pembuluh darah dan menghalangi penyaluran rasa sakit pada saraf otak. Fungsi triptan berbeda dengan pereda rasa sakit. Obat ini biasa direkomendasikan  jika obat-obatan pereda rasa sakit tidak efektif.

Triptan tidak direkomendasikan untuk orang-orang yang berisiko mengidap stroke dan serangan jantung. Obat jenis ini juga dapat mengakibatkan beberapa efek samping sebagai berikut:

  • Rasa panas, ketegangan, kesemutan, wajah memerah, anggota tubuh terutama wajah dan dada terasa berat.
  • Mual, mulut kering dan rasa kantuk.
  • Pusing, lemah otot.

Obat-obatan anti-mual

Obat anti-mual diberikan karena migrain sering diiringi mual dan terkadang muntah. Obat ini umumnya diresepkan bersamaan dengan triptan atau pereda rasa sakit.  Tapi meski Anda tidak merasa mual, pada beberapa orang, obat ini dideteksi dapat mengobati migrain.

Efek samping yang bisa ditimbulkan dari obat-obatan ini adalah diare dan rasa mengantuk.

Transcranial magnetic stimulation (TMS)

Konsultasikan kepada dokter jika pengobatan mandiri dirasa tidak efektif. Pengobatan dan pencegahan migrain di beberapa rumah sakit dapat dilakukan dengan transcranial magnetic stimulation (TMS).

TMS adalah sebuah perangkat listrik kecil yang diletakkan pada kepala untuk mengantarkan aliran magnetik melalui kulit. Penelitian menyatakan bahwa TMS berfungsi dengan baik dalam menangani migrain terutama ketika digunakan di awal serangan. Namun belum jelas bagaimana cara kerja TMS dalam meredakan gejala penyakit tersebut. Selain itu, bukti efektivitasnya tidak terlalu kuat.

Efek samping penggunaan alat ini dalam jangka panjang terbilang kecil, di antaranya: rasa kantuk dan kelelahan, kepala sedikit pening, otot bergetar sehingga sulit untuk berdiri, dan mudah marah.

Pengobatan Migrain untuk Wanita Hamil dan Menyusui

Mengidentifikasi dan menghindari faktor pemicu migrain adalah langkah yang paling disarankan bagi para ibu hamil dan menyusui. Kelompok wanita ini disarankan untuk membatasi konsumsi obat-obatan bebas.

Konsultasikan kepada dokter jika Anda membutuhkan obat-obatan pereda rasa sakit. Biasanya dokter akan memberikannya dalam dosis rendah. Obat antiinflamasi atau triptan adalah yang paling umum diresepkan.