Migrain sebenarnya tidak dapat disembuhkan, namun pengobatan dapat membantu meredakan gejala bagi penderitanya. Penanganan migrain dilakukan berdasarkan umur, jenis migrain yang dialami, tingkat keparahan migrain, serta kondisi kesehatan penderita. Tujuan penanganan tersebut membantu menghentikan gejala serta mencegah terjadinya serangan migrain berikutnya. Penanganan mandiri yang dapat dilakukan berupa:

  • Beristirahat atau tidur di kamar yang sepi dan gelap
  • Memijat kepala atau pelipis.
  • Kompres dingin di atas dagu atau di belakang leher
  • Melakukan relaksasi otot.

Jika penanganan mandiri belum dapat mengatasi gejala migrain, maka penderita dapat mengonsumsi obat-obatan berikut ini:

Obat pereda nyeri
Obat-obatan jenis ini cenderung efektif jika dikonsumsi saat tanda awal serangan migrain muncul. Meski demikian, obat ini memerlukan waktu untuk diserap ke dalam aliran darah. Obat-obatan pereda nyeri yang dijual bebas dan sering digunakan untuk migrain, antara lain adalah paracetamol atau aspirin. Untuk migrain dengan tingkat keparahan sedang, dianjurkan untuk mengonsumsi obat pereda nyeri yang mengandung kafein.

Sebelum mengonsumsi obat-obatan di atas, sebaiknya perhatikan beberapa hal berikut ini:

  • Aspirin tidak direkomendasikan bagi penderita yang berusia di bawah 16 tahun.
  • Pastikan Anda membaca petunjuk penggunaan sebelum mengonsumsi obat-obatan yang dijual bebas.
  • Waspadai efek samping sakit kepala akibat mengonsumsi obat pereda nyeri. Terlalu sering mengonsumsi obat-obatan ini justru dapat membuat kondisi migrain memburuk.
  • Jika obat-obatan yang dijual bebas dirasa tetap tidak efektif, disarankan untuk berkonsultasi kepada dokter.

Triptan
Triptan adalah kelompok obat-obatan yang dapat meredam perubahan zat kimia dalam otak yang menjadi penyebab migrain. Triptan berfungsi menyempitkan pembuluh darah sehingga menghalangi penyaluran rasa sakit pada saraf otak. Obat ini biasa diberikan sebagai pereda nyeri yang khusus untuk sakit kepala dan migraine, dalam bentuk pil, semprot hidung, atau    suntik. Triptan direkomendasikan jika obat-obatan pereda rasa sakit tidak efektif. Contoh obat-obatan triptan adalah sumatriptan.

Triptan tidak direkomendasikan untuk orang-orang yang berisiko menderita stroke dan serangan jantung. Obat jenis ini juga dapat mengakibatkan beberapa efek samping sebagai berikut:

  • Rasa panas, ketegangan, kesemutan, wajah memerah, serta anggota tubuh (terutama wajah dan dada) terasa berat
  • Mual, mulut kering, dan rasa kantuk
  • Pusing dan melemahnya otot.

Obat antiemetik atau antimual

Obat antimual dapat mengatasi migrain pada sebagian penderitanya. Obat ini akan diresepkan dokter bersamaan dengan pereda nyeri dan triptan, dan dapat diberikan dalam bentuk tablet atau suppositoria. Efek samping yang bisa ditimbulkan dari obat-obatan ini adalah diare dan mengantuk.

Di samping pemberian obat, beberapa terapi lainnya dapat membantu meredakan nyeri migrain. Di antaranya adalah akupuntur, relaksasi dengan terapi biofeedback yang merekam aktivitas listrik tubuh, serta terapi perilaku kognitif guna memperbaiki pengaruh pikiran dan respons terhadap rasa nyeri.

Transcranial magnetic stimulation (TMS)

Dalam teknik ini, sebuah perangkat listrik berukuran kecil diletakkan pada kepala untuk mengantarkan aliran magnetik melalui kulit. TMS dapat digunakan untuk meredakan tingkat keparahan sakit kepala yang dialami penderita migrain. Kendati demikian, metode ini bukan penyembuh migrain dan tidak efektif digunakan pada semua penderita. TMS dapat dikombinasikan dengan pemberian obat. Efek samping yang dapat ditimbulkan oleh metode pengobatan ini, di antaranya adalah sedikit pusing, rasa kantuk dan lelah, tremor, serta mudah gusar. Sejauh ini, belum diketahui efek samping TMS dalam jangka panjang.