Depresi akan lebih mudah disembuhkan jika lebih cepat ditangani. Penanganan yang dilakukan oleh dokter biasanya mencakup psikoterapi, obat-obatan, atau kombinasi keduanya.

Psikoterapi

Beberapa teknik psikoterapi yang dilakukan untuk mengatasi depresi, antara lain:

  • Cognitive behavior therapy (CBT). Terapi ini diterapkan pada orang-orang yang tersandera oleh pola pikir tertentu yang merugikan mereka. CBT akan membantunya untuk melepaskan diri dari pikiran dan perasaan negatif, serta menggantinya dengan respons positif. CBT juga dapat membantu pasien untuk mengenali kondisi yang membuat depresi semakin buruk, sehingga pasien dapat merubah perilaku untuk mengatasinya. Biasanya CBT dilakukan 6-8 sesi selama 10-12 minggu.
  • Problem-solving therapy (PST). PST bisa meningkatkan kemampuan penderita untuk menghadapi pengalaman yang membuatnya tertekan, khususnya penderita depresi yang usianya sudah lebih dewasa. Penderita akan diminta untuk mengidentifikasi masalah-masalah dan mendapatkan solusi-solusi realistis melalui proses yang bertahap.
  • Interpersonal therapy (IPT). Prinsip dasar IPT adalah mengatasi masalah yang muncul saat berhubungan dengan orang lain, yang dapat mengakibatkan atau memperparah depresi.
  • Terapi psikodinamis. Terapi ini mendorong pasien untuk menyelami berbagai perasaan dan emosi yang ada dalam dirinya, yang kadang tidak disadarinya. Tujuan dari terapi psikodinamis adalah membantu pasien untuk memahami bahwa apa yang dirasakannya dan bagaimana dia bersikap, dipengaruhi oleh adanya masalah yang belum diselesaikan, di pikiran bawah sadarnya.

Antidepresan

Antidepresan adalah obat-obatan untuk mengatasi gejala depresi. Terdapat berbagai macam obat antidepresan, dengan tingkat keberhasilan dan dampak yang berbeda-beda pada tiap orang. Karena itu, pasien mungkin akan mencoba beberapa jenis antidepresan sampai menemukan obat yang sesuai.

Biasanya, obat antidepresan membutuhkan waktu beberapa minggu atau bulan untuk bekerja dan mulai menghilangkan gejala yang dirasakan penderita depresi. Setelah obat mulai bekerja, konsumsi obat akan diteruskan sampai 6 bulan hingga 1 tahun, dan dihentikan setelah gejala depresi benar-benar hilang. Perlu diingat bahwa obat antidepresan tidak boleh dihentikan sendiri tanpa anjuran dokter, walaupun dirasa sudah membaik, karena berisiko untuk kambuh dan dapat menimbulkan gejala putus obat, seperti:

  • Sakit maag.
  • Demam, sakit kepala, pegal linu, dan mual.
  • Cemas.
  • Pusing.
  • Mimpi yang terasa seperti kenyataan.
  • Sensasi seperti tersetrum pada tubuh.

Untuk menghindari gejala putus obat, saat menghentikan konsumsi antidepresan, dokter akan menurunkan dosis obat secara perlahan, sebelum akhirnya dihentikan.

Hampir setengah dari orang yang mengonsumsi antidepresan mengalami efek samping dari obat, terutama pada awal penggunaan. Oleh karena itu, selama pengobatan dengan antidepresan, diperlukan pemantauan dokter secara intensif. Dan perlu diingat sekali lagi, jangan menghentikan penggunaan antidepresan sendiri tanpa anjuran dari dokter, walaupun timbul efek samping, seperti:

  • Mulut kering.
  • Konstipasi.
  • Pusing dan berkunang-kunang terutama pada siang hari.
  • Gangguan penglihatan.
  • Gangguan buang air kecil.
  • Gangguan aktivitas seksual.
  • Insomnia dan gelisah.
  • Mudah tersinggung.

Dokter memiliki cara untuk mengatasi efek samping antidepresan, misalnya mengurangi dosis obat, memberikan obat tambahan untuk membantu mengurangi efek samping, atau mengganti jenis antidepresan. Contoh-contoh obat antidepresan adalah fluoxetin, venlafaxine, dan amitriptyline.

Terapi Kejut Listrik

Terapi kejut listrik atau electroconvulsive therapy (ECT) sangat efektif untuk menangani depresi pada pasien yang tidak respon terhadap obat, mengalami gejala psikosis, serta pasien dengan percobaan bunuh diri. Namun, keamanan ECT masih menjadi perdebatan, terutama pada orang yang lanjut usia.

Pencegahan Depresi

Depresi secara umum tidak dapat dicegah. Akan tetapi dengan gaya hidup yang baik dan sehat, tingkat keparahan dan risiko kambuhnya depresi dapat diturunkan. Ā Beberapa aktivitas yang dapat membantu seorang penderita depresi dalam mencegah kondisinya bertambah buruk, antara lain adalah:

  • Menjaga interaksi sosial. Penderita depresi cenderung menarik diri dari lingkungan dan orang sekitarnya. Kondisi ini dapat memperparah depresi. Oleh karena itu, menjaga interaksi sosial dengan orang-orang terdekat ataupun bertemu dengan orang-orang baru dapat mencegah depresi berkembang atau muncul kembali.
  • Olahraga. Olahraga yang dilakukan secara rutin tidak hanya bermanfaat untuk menjaga kebugaran. Olahraga juga dapat membantu meredakan depresi, kegelisahan, dan menjaga emosi tetap stabil. Dianjurkan untuk berolahraga selama 30 menit, 3-5 kali seminggu.
  • Menjaga kesehatan. Kesehatan yang buruk pada penderita depresi akan sangat berpengaruh pada perkembangan depresi yang dialami. Untuk mencegah depresi bertambah buruk, penderita harus menjaga kesehatan tubuhnya dengan baik. Dianjurkan untuk tidur secara cukup, rutin berolahraga, dan menjaga pola makan yang baik dan sehat.
  • Tidak mengonsumsi minuman beralkohol. Alkohol merupakan minuman yang dapat mengubah suasana hati. Seseorang yang memiliki risiko mengalami depresi harus menjaga diri dari minuman beralkohol agar tidak memperburuk suasana hati.
  • Merencanakan kehidupan. Merencanakan kehidupan, baik jangka pendek maupun jangka panjang, dapat membantu seseorang mempersiapkan diri secara mental. Meskipun tetap akan ada kejadian yang tidak terduga, namun dengan perencanaan yang baik, tingkat stres akibat kejadian tak terduga dapat ditekan.