Dokter akan melakukan tanya jawab lengkap seputar keluhan dan gejala yang dialami, termasuk riwayat penyakit, konsumsi obat-obatan tertentu, dan ada tidaknya kejadian buruk yang terjadi sebelumnya.

Selanjutnya dokter akan melakukan evaluasi kejiwaan untuk mengetahui, pemikiran, perasaan, serta pola tingkah laku penderita. Hal ini dilakukan untuk menentukan apakah seseorang mengalami depresi atau tidak.Dokter akan melakukan evalusasi ini dengan menggunakan kriteria DSM V (statistical manual of mental disorders V).

Pemeriksaan lain, seperti tes darah hanya dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan adanya penyakit lain yang bisa memicu terjadinya gangguan mental.

Pengobatan Depresi

Depresi akan lebih mudah disembuhkan jika terdeteksi lebih dini dan segera ditangani. Penanganan terhadap depresi mencakup psikoterapi, obat-obatan, atau terapi kejut listrik. Metode pengobatan yang diberikan akan dipilih berdasarkan kondisi pasien. Berikut ini adalah penjelasannya:

Psikoterapi

Psikiater akan melakukan psikoterapi dengan melakukan wawancara untuk membantu penderita dalam mengatasi depresi. Psikoterapi dilakukan untuk mengukur beberapa aspek yang dialami penderita di bawah ini:

  • Sudut pandang negatif terhadap situasi yang dialami
  • Pengalaman yang membuat tertekan
  • Komunikasi dan hubungan dengan orang lain
  • Emosi

Obat Antidepresan

Di samping psikoterapi, pemberian obat untuk depresi (antidepresan) juga dapat membantu mengatasi gejala depresi. Antidepresan berkerja dengan cara menyeimbangkan zat kimia otak yang mengatur suasana perasaan.

Ada beberapa jenis obat antidepresan yang akan diresepkan oleh dokter untuk mengatasi depresi, yaitu:

  • Selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIs), contohnya escitalopram dan fluoxetine
  • Serotonin-norepinephrine reuptake inhibitors (SNRIs), contohnya duloxetine, dan venlafaxine
  • Tricyclic antidepressant, contohnya amitriptyline
  • Monoamine oxidase inhibitors (MAOIs), contohnya phenelzine dan isocarboxazid

Obat antidepresan membutuhkan waktu sekitar 2–4 minggu untuk bekerja dan meredakan gejala yang dirasakan oleh penderita depresi. Konsumsi obat juga membutuhkan waktu yang lama, yaitu 6–12 bulan. Jangan menambah, mengurangi, atau menghentikan obat antidepresan tanpa pemeriksaan dan anjuran dokter.

Pertimbangan untuk perubahan dosisi akan dilakukan sesuai dengan kondisi pasien dan respon terhadap terapi. Dokter akan mengurangi dosis obat secara bertahap. Bila konsumsi obat dihentikan secara tiba-tiba, gejala depresi akan muncul kembali.

Terapi kejut listrik

Jika obat belum dapat meredakan gejala dan keluhan depresi, terapi kejut listrik atau electroconvulsive therapy (ECT) bisa menjadi pilihan. Dalam ECT, gelombang listrik akan dialirkan ke tubuh untuk memengaruhi kerja otak, sehingga gejala depresi mereda. ECT juga dapat dilakukan pada pasien yang berisiko tinggi untuk bunuh diri.

Selain ketiga terapi di atas, stimulasi magnet juga dapat dilakukan pada penderita depresi yang tidak memberikan respons terhadap obat antidepresan. Terapi ini mengirimkan sinyal magnetik untuk merangsang sel-sel saraf di otak yang mengatur suasana hati.

Selain itu, dukungan keluarga juga penting untuk membantu penderita depresi untuk sembuh. Perbaikan pola hidup, pola makan, pengelolaan stres, penting dilakukan untuk membantu proses pemulihan penderita depresi. Lakukan kontrol secara rutin sesuai anjuran dokter agar perkembangan kondisi dan respon pasien terhadap terapi dapat terpantau.

Penderita depresi yang parah atau yang memiliki keinginan untuk bunuh diri perlu dirawat di rumah sakit. Hal ini dilakukan untuk memantau perkembangan penderita, sekaligus melindungi penderita hingga suasana hatinya berubah menjadi lebih baik.

Komplikasi Depresi

Depresi dapat menggangu produktifitas penderitanya. Jika tidak ditangani depresi dapat menyebabkan gangguan tidur da gangguan kesehatan lain akibat gangguan pola makan. Selain itu, depresi yang berat dapat membahayakan penderitanya, terlebih jika sudah muncul keinginan melukai diri sendiri atau bunuh diri.

Pencegahan Depresi

Menerapkan gaya hidup yang sehat dapat membantu mencegah terjadinya depresi, serta mencegah kondisi ini memburuk. Cara-cara yang dapat dilakukan adalah:

  • Melakukan relaksasi untuk mengatasi stres, misalnya yoga atau pilates
  • Tidur dengan cukup, minimal 8 jam per hari
  • Menghindari konsumsi alkohol
  • Berolahraga secara teratur
  • Menjaga silaturahmi dengan teman atau keluarga pada waktu lengang
  • Membatasi penggunaan sosial media jika dirasa mengganggu
  • Menjauhi orang yang membawa pengaruh buruk
  • Mengobati penyakit kronis yang berisiko menimbulkan depresi
  • Berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater jika merasakan sedih yang berkepanjangan